google.com, pub-6935017799501206, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus atau Unta Bactrian hewan padang pasir yang berwajah Ramah - PLANTER AND FORESTER

Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus atau Unta Bactrian hewan padang pasir yang berwajah Ramah

Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus atau Unta Bactrian hewan padang pasir yang berwajah Ramah 

Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus

Unta Berpunuk Dua,Camelus bactrianus atau selanjutnya akan disebut sebagai Unta Bactrian adalah hewan padang pasir yang dapat ditemukan di Asia Tengah dan Asia Timur dengan ciri khas memiliki dua buah punuk di punggungnya. Unta Bactrian memiliki bentuk liar yang disebut Camelus ferus.

Menurut data IUCN (2015), Camelus ferus masuk dalam daftar hewan berstatus critically endangered (CE) atau kritis yang artinya memiliki resiko kepunahan sangat tinggi. Hal ini mendasari perlunya usaha untuk melestarikan Unta Berpunuk Dua di habitat in-situ maupun ex-situ.

Nama Populer - Pop name    :  Unta Berpunuk Dua, Unta Bactrian
Nama Latin - Latin Name      : Camelus bactrianus 
Family                         Camelidae
Origin - Daerah Asal               :  Asia Tengah dan Asia Timur

Ciri khas                                  :  Berpunuk dua
Keunikan                                 :   Mampu Bertahan di Kekeringan
Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus

Ciri ciri dan Identifikasi Satwa  Camelus bactrianus

Famili Camelidae terbagi menjadi tiga genus yaitu genus Camelus, Llama dan Vicugna. Old World Camel adalah sebutan untuk anggota genus Camelus yang anggotanya adalah Camelus dromedarius (Unta Berpunuk Satu, Unta Arab) dan Camelus bactrianus (Unta Berpunuk Dua, Unta Bactrian). Sedangkan New World Camel adalah sebutan untuk anggota genus Lama yang anggotanya adalah L. Glama (Llama), L. Pacos (Alpaca), dan L.guanicoe (Guanaco) dan genus

Vicugna dengan beranggotakan satu spesies yaitu V. Vicugna (Vicugna) (Gordon 1997; Yam dan Khomeiri 2015).

Unta (merujuk pada genus Camelus) adalah herbivora khas gurun berbadan besar dan kuat. Unta dapat melakukan perjalanan jarak jauh di cuaca panas seperti gurun kering dengan sedikit makanan atau air. Yam dan Khomeiri (2015) menyebutkan sekitar 90% unta yang ada adalah Unta Punuk Satu dan telah didomestikasi sebagai ternak, sementara sebagian dari Bactrian masih bersifat liar.

Data nationalgeographic.com (2015), menyebutkan bahwa Unta Bactrian liar menyebar di gurun berbatu sekitar Asia Tengah dan Asia Timur. Unta adalah hewan ruminansia yang memiliki tiga bagian perut. Walaupun unta adalah hewan ruminan, tetapi unta tidak digolongkan dalam subordo Ruminantia melainkan subordo Tylopoda. Hal tersebut karena beberapa perbedaan yang dimiliki oleh unta dibandingkan hewan ruminansia lain seperti anatomi kaki,

sistem perut dan tidak adanya tanduk pada unta (Grossman 1960; Schwartz dan Dioli 1992; Fowler 1998; Werney 2003; Yam dan Khomeiri 2015).

Sebagai hewan yang hidup pada suhu ekstrim, unta memiliki adaptasi sistem fisiologis khusus di tubuhnya untuk mengatur regulasi termal tubuh. Menurut Feldhamer et al. (2015), unta yang diberi air tidak terlalu menunjukan perubahan suhu tubuh yang terlalu fluktuatif, namun dalam keadaan kekurangan air, suhu tubuh unta sangat fluktuatif yaitu 34.5 derajat C saat malam dan naik menjadi 40.5 derajat C saat siang hari. Perubahan suhu tubuh ini penting karena saat unta dalam keadaan dehidrasi, mereka dapat melepas kelebihan panas tubuh saat malam hari dengan radiasi, konduksi dan konveksi ke lingkungan yang lebih dingin untuk menghemat air. Selain itu unta dapat bertahan dalam keadaan kehilangan cairan tubuh sampai 30%, dimana kehilangan tubuh sampai 15% saja dapat mematikan bagi kebanyakan mamalia

Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus

Habitat Satwa Camelus bactrianus

Habitat Unta Berpunuk Dua (Camelus bactrianus) atau selanjutnya akan disebut sebagai Unta Bactrian adalah hewan padang pasir 

Penyebaran Satwa Camelus bactrianus

Penyebaran Unta ini  dapat ditemukan di Asia Tengah dan Asia Timur dengan ciri khas memiliki dua buah punuk di punggungnya. Unta Bactrian memiliki bentuk liar yang disebut Camelus ferus.

Unta Bactrian liar menyebar di gurun berbatu sekitar Asia Tengah dan Asia Timur. Unta adalah hewan ruminansia yang memiliki tiga bagian perut. Walaupun unta adalah hewan ruminan, tetapi unta tidak digolongkan dalam subordo Ruminantia melainkan subordo Tylopoda. Hal tersebut karena beberapa perbedaan yang dimiliki oleh unta dibandingkan hewan ruminansia lain seperti anatomi kaki,

Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus

Morfologi Satwa Camelus bactrianus

Morfologi  Unta baktria tingginya lebih dari 2 meter pada punuknya dengan berat sekitar 725 kg. Mereka tergolong herbivora, memakan rumput, daun-daunan, dan sereal, mampu minum hingga 120 liter air sekaligus. Mulutnya sangat kuat, memungkinkan mereka memakan tanaman-tanaman gurun yang berduri.

Daya adaptasi mereka sangat baik untuk melindungi dirinya dari panas padang gurun dan pasir, dengan telapak kaki yang lebar dan berlapis serta lapisan-lapisan kulit yang tebal di lututnya serta dadanya, lubang hidung yang dapat membuka dan menutup, telinga yang penuh dengan rambut-rambut pelindung, serta alis mata yang tebal dengan dua baris bulu mata yang panjang. Bulu yang tebal dan wol lapisan dalamnya membuat binatang ini tetap hangat di malam-malam padang gurun yang dingin juga melapisinya terhadap panas di siang hari.

Unta arab (C. dromedarius) adalah satu-satunya unta lain yang bertahan, yang berasal dari Gurun Sahara, tetapi kini telah lenyap di alam liarnya. Dibandingkan dengan unta arab, unta baktria lebih kekar dan tangguh serta mampu bertahan di panas padang gurun yang membakar di Iran utara hingga musim dingin yang membeku di Tibet. Unta arab lebih tinggi dan lebih cepat bergeraknya daripada unta baktria. Pengendara dapat membuatnya berjalan dengan kecepatan antara 13–16 km per jam selama berjam-jam. Seekor unta baktria yang membawa beban dapat berjalan dengan kecepatan sekitar 4 km per jam.


Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus

Perilaku Satwa Camelus bactrianus
Perilaku Unta baktria adalah hewan diurnal, tidur di alam terbuka pada malam hari dan mencari makan pada siang hari. Mereka terutama herbivora. Dengan mulut yang kuat yang dapat menahan benda tajam seperti duri, mereka dapat memakan tanaman yang kering, berduri, asin atau pahit, dan dapat menelan hampir semua jenis tumbuhan. Jika sumber nutrisi lain tidak tersedia, unta ini mungkin memakan bangkai, menggerogoti tulang, kulit, atau berbagai jenis daging. Dalam kondisi yang lebih ekstrim, mereka dapat memakan bahan apapun yang mereka temukan, seperti tali, sandal, dan bahkan tenda. Kemampuan mereka untuk memakan berbagai macam makanan memungkinkan mereka untuk hidup di daerah dengan vegetasi yang jarang. Saat pertama kali makanan ditelan, tidak dikunyah sepenuhnya. Makanan yang sebagian dikunyah (disebut cud) masuk ke dalam perut dan kemudian dibawa kembali untuk dikunyah lebih lanjut.

Unta Baktria termasuk dalam kelompok hewan yang cukup kecil yang secara teratur memakan salju untuk memenuhi kebutuhan airnya. Hewan yang hidup di atas garis salju mungkin harus melakukan ini, karena salju dan es bisa menjadi satu-satunya bentuk air selama musim dingin, dan dengan demikian, jangkauan mereka menjadi sangat diperbesar. Panas laten salju dan es lebih besar dibandingkan dengan kapasitas panas air, memaksa hewan untuk makan hanya dalam jumlah kecil pada satu waktu.

Perilaku Reproduksi Satwa Camelus bactrianus
Perilaku Reproduksi Unta. Semua anggota famili Camelidae memiliki 74 kromosom dengan morfologi yang sangat mirip. Baik new world camel maupun old world camel dapat dikawinkan silang antar spesies dan menghasilkan turunan yang fertil. Kawin silang antara unta dromedari dan unta bactrian telah dilakukan dengan menghasilkan keturunan dengan ukuran dan bobot badan lebih besar dari induknya (Noakes et al. 2009).

Unta adalah seasonal breeder. Musim kawin untuk unta bactrian lebih
pendek dibandingkan unta dromedari. Di abitat alami seperti China, masa kawin unta terjadi pada pertengahan bulan januari hingga pertengahan bulan april (Tibary dan Memon 1999). Penurunan panjang siang hari menimbulkan stimulus terhadap perilaku reproduksi. Untuk unta yang hidup di wilayah yang dilalui garis ekuator, tidak terjadi perubahan musim kawin karena pengaruh photoperiod.

Faktor-faktor seperti hujan, nutrisi dan manajemen perawatan  kemungkinan menyebabkan pengaruh yang besar terhadap musim kawin (Noakes et al. 2009). 

Sistem Reproduksi Jantan
Organ genitalia pada unta jantan mirip dengan hewan ternak domestik pada umumnya. Unta memiliki kelenjar bulbourethralis dan ampula vas deferens tetapi tidak mempunyai kelenjar vesikularis. Unta jantan memiliki sebuah kelenjar yang disebut poll glands yang berlokasi di belakang lehernya. Kelenjar tersebut aktif setelah unta jantan matang secara seksual dan sedang dalam musim kawin untuk menarik perhatian unta betina. Sekresi dari poll glands yang berwarna coklat kehitaman akan turun melalui leher dan mengandung feromon yang akan menarik perhatian unta betina. 

Testis unta berada dalam non-pendolous scrotum yang berlokasi di daerah perineal tepatnya di ventral anus. Testis akan turun sempurna ke kantung skrotum pada saat umur dua tahun. Penis yang tidak ereksi menghadap ke belakang sehingga urin akan mengalir keluar ke arah belakang. Glandula penis
berbentuk hook-shaped (Noakes et al. 2009).

Sistem Reproduksi Betina
Unta betina dapat mencapai pubertas pada usia sekitar tiga tahun (Chen dan Yuen 1979) dengan kematangan seksual terjadi saat unta berumur lima tahun, walaupun sebagian betina dapat menunjukan perilaku seksual sejak berumur dua tahun (Noakes et al. 2009).
Ovarium unta berbentuk oval dan terselubungi ovarian bursa. Rata-rata panjang, lebar dan tebal dari ovarium berturut-turut adalah 2,5-6,0 cm, 1,5-4,0 cm dan 0,5-1,5 cm. Diameter dari folikel yang matang sekitar 1,2-2,2 cm dan corpus luteum sekitar 1,2-3,7 cm. Secara umum, tanduk uterus kiri unta lebih panjang dari yang kanan. Badan uterus relatif kecil jika dibandingkan keseluruhan panjang uterus yaitu sekitar 2,5 cm atau sekitar 10% panjang uterus. Serviks unta berukuran antara 4,0-6,5 cm. Ejakulasi pada unta terjadi di dalam uterus. Panjang vagina mencapai 30 cm. Kelenjar mamae unta terdiri atas empat kuarter (Noakes et al. 2009). 

Dian-bo et al. (2015) menyebutkan bahwa susu dari Unta Bactrian mengandung protein 3,96%, laktosa 4,50%, lemak 5,32% dan bahan kering total 14,52%. Penulis tersebut juga menyebutkan bahwa susu Unta Bactrian segar maupun yang telah difermentasikan memiliki potensi untuk dijadikan terapi diabetes tipe II, gagal ginjal kronis, hepatitis B dan menghambat pertumbuhan tumor

Siklus Estrus
Pada unta, penggunaan istilah siklus estrus masih diperdebatkan. Hal
tersebut karena saat tidak terjadi perkawinan dan ovulasi, unta betina tidak mengalami fase luteal. Karena itulah pada unta lebih sering dipakai istilah  “follicular wave pattern”. Aktivitas folikular yang terjadi selama 28 hari ini secara klinis terdiri atas tiga fase berbeda yaitu fase pertumbuhan, fase matang dan fase regresi. Jarak antara dua fase matang folikular adalah sekitar 14-18 hari. Waktu estrus tergantung pada cuaca serta adanya perkawinan atau tidak. Jika terjadi perkawinan maka waktu estrus berakhir pada hari ketiga dan jika tidak maka akan berlangsung selama tujuh hari. Unta betina tidak menunjukan gejala estrus yang terlalu terlihat, biasanya unta estrus akan menerima perlakuan saat ada jantan teaser, mengeluarkan leleran mukus dari vulva atau mengamati unta lain yang
sedang kawin. Deteksi estrus juga dapat dilakukan dengan palpasi perektal dengan mengetahui adanya folikel yang matang dan tegangan pada uterus. Unta dapat memproduksi dua hewar setiap dua tahun, dan mampu memproduksi delapan hewar selama masa produktifnya (Gordon 1997, Fowler 1998, Noakes et al. 2009).

Perilaku Kawin 
Saat musim kawin, jantan yang kuat dapat keluar dari kandang atau merusak pembatas untuk mencari betina estrus. Mereka akan menunjukan perilaku tertentu di depan betina estrus atau jantan saingan, salah satunya mengeluarkan buih dari mulut. Jantan mencari betina estrus dengan cara mencium vulva, perineum dan urin. Feromon dalam urin dan feses betina menstimulasi jantan untuk flehmen, yaitu respon perilaku dari saraf olfaktorius dengan mengangkat kepala dan leher diikuti dengan menaikan bibir atas dan menaikan frekuensi bernapas. Perkawinan dilakukan dengan posisi betina sternal recumbency (berbaring di dada) dan jantan berada di belakang betina dengan kaki belakang menekuk dan kaki depan membentang pada sisi tubuh betina. Durasi kopulasi bervariasi dan cenderung lebih lama saat udara lebih panas. Betina estrus memberi respon cepat kepada jantan dengan memposisikan diri secara sternal recumbency. Setelah selesai bercumbu, jantan akan berjongkok, mendorong dirinya ke arah preputium betina dan mengarahkan penisnya ke vulva betina. Ejakulasi terjadi beberapa menit setelah kopulasi, ditandai dengan jantan yang merentangkan seluruh tubuhnya dan memanjangkan lehernya (Noakes et al. 2009).

Kebuntingan 
Walaupun kedua uterus unta berkembang dengan normal, hanya pada
kornea uteri kiri saja embrio dan fetus dapat berkembang, meskipun kornea uteri kanan berperan dalam pembentukan plasenta. Meskipun terjadi kopulasi di kornea uteri kanan, embrio akan berjalan ke kornea uteri kiri melalui badan uteri dan terjadi implantasi (Gordon 1997, Fowler 1998, Noakes et al. 2009).

Kelahiran lebih dari satu sangat jarang ditemui pada unta. Tipe palsentasi unta adalah simpel difusa. Lama kebuntingan pada unta terjadi antara 375-415 hari tergantung kepada metode perawatan, jumlah perkawinan saat estrus, jenis kelamin fetus, pakan dan musim. Disarankan agar melakukan perkawinan pada awal masa kawin sehingga kelahiran terjadi sebelum akhir masa kawin berikutnya.

Jantan sebaiknya dipisahkan dari betina  bunting yang sudah memasuki masa trimester akhir (Gordon 1997, Noakes et al. 2009). Diagnosis kebuntingan pada unta menurut Noakes et al. (2009) bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti melihat respon betina terhadap jantan, Pengujian kadar progesterone darah, Palpasi transrektal, Pemeriksaan vagina, dan pemeriksaan Ultrasonography.

Kawin Dalam (Inbreeding)
Kawin dalam diartikan sebagai perkawinan antar individu dengan hubungan keluarga yang lebih dekat dibandingkan rataan hubungan kekerabatan kelompok dimana individu tersebut berada. Kawin dalam menyebabkan adanya peningkatan derajat homozigositas sekaligus penurunan derajat heterozigosotas dalam suatu kelompok. Kawin dalam tidak selalu menunjukkan hasil yang buruk. Hewan dapat
memiliki gen letal yang menyebabkan kematian anak dalam kandungan atau saat lahir. Keberadaan gen letal ini yang dikhawatirkan terjadi karena adanya kawin dalam (Lasley 1972, Noor 1996).


Klasifikasi Satwa Camelus bactrianus
Menurut Wilson et al. (2005) dan IUCN (2015), taksonomi dari Unta
Bactrian adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum      : Chordata
Kelas      : Mammalia
Ordo       : Artiodactyla
Subordo : Tylopoda
Family    : Camelidae
Genus    : Camelus
Species : Camelus bactrianus; Camelus ferus.

Status Konservasi Camelus bactrianus
Menurut data IUCN tahun 2015, Unta Bactrian adalah satwa yang termasuk dalam kategori sangat terancam punah (critically endangered species) dan tidak dapat diperdagangkan karena berada dalam daftar Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies) 
Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus

Lokasi Pemotretan Satwa Camelus bactrianus

Lokasi pemotretan di Taman Safari Bogor, Bogor, Jawa Barat

Detail :
Camera maker : Nikon Corporation
Camera model : Nikon D5200
F Stop : f/5.6
Exposure time : 1/125 sec.
ISO Speed : ISO 400 
Focal lengh : 300 mm
Lens : Sigma 70-300mm f/4-5.6 DG Macro 

Kamus Identifikasi Flora dan Fauna serta Sumber Informasi untuk Pengenalan Flora dan Fauna 

Planter and Forester


1 Response to "Unta Berpunuk Dua, Camelus bactrianus atau Unta Bactrian hewan padang pasir yang berwajah Ramah "

  1. Jadi ingat pas aku umrah 2019 lalu sempat berkunjung ke Hudaibiyah Camel Farm :) Unta2 di sana tinggi besar dan dipelihara khusus dengan perawatan tertentu. Bener, binatang yang sudah jarang seklai ditemukan, makanya mesti dijaga dengan baik.

    ReplyDelete

Arsip Blog

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel