google.com, pub-6935017799501206, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Mengenal Buah Pisang. Musa paradisiaca. - PLANTER AND FORESTER

Mengenal Buah Pisang. Musa paradisiaca.

Mengenal Buah Pisang. Musa paradisiaca.

Pisang. Musa paradisiaca.


Pisang merupakan komoditas hortikultura yang tumbuh baik di daerah tropika seperti Indonesia. Indonesia merupakan salah satu center of origin tanaman pisang (Robinson, 2011). Pisang terus berkembang di Indonesia terlihat dari pertambahan jumlah produksi pisang setiap tahunnya. Menurut data BPS tahun 2016 produksi pisang tahun 2011 sebesar 6,13 juta ton meningkat menjadi 7,3 juta ton pada tahun 2015 (Kementan, 2016). Pisang termasuk tanaman yang berbuah sepanjang tahun dan harganya relatif murah di Indonesia. Selain itu buah pisang memiliki nilai gizi yang tinggi karena mengandung vitamin, mineral, serat, dan karbohidrat yang mudah diserap oleh tubuh. Kandungan karbohidrat semakin tinggi mengikuti kematangan buah (Sari, 2011). Buah pisang selain dikonsumsi sebagai buah segar juga dapat diolah menjadi berbagai olahan seperti sale, kripik pisang, dan tepung pisang (Prabawati et al., 2011). Bagian tanaman lain yang biasanya menjadi limbah juga dapat dimanfaatkan. Limbah panen pisang dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos (Putri, 2016) atau campuran pakan ternak pengganti rumput (Siregar, 2014).

Pisang. Musa paradisiaca

Buah pisang seperti produk-produk hortikultura lainnya memiliki sifat mudah rusak, meruah, dan tidak tahan lama. Selain itu buah pisang termasuk buah klimakterik yang mengalami peningkatan respirasi setelah dipanen sehingga daya simpan buah menjadi rendah. Penetapan waktu panen menjadi penting untuk mendapatkan kualitas buah yang baik dan daya simpan yang lama. Waktu pemanenan yang tepat yaitu tidak terlalu muda maupun terlalu tua (Pantastico, 1986). Salah satu solusi untuk mengetahui waktu pemanenan yang tepat yaitu dengan metode akumulasi suhu harian atau disebut sebagai heat unit (satuan panas). Satuan panas dapat digunakan untuk menentukan fase perkembangan tumbuhan secara tepat.

Pisang. Musa paradisiaca. 
Nama Populer - Pop name    :  Pisang
Nama Latin - Latin Name        :  Musa paradisiaca
Family                           :  Musaceae
Origin - Daerah Asal                 :  Asia, Afrika
Jenis tanaman                             Tanaman buah
Tipe Tanaman                          : Tanaman Buah, Tanaman Hias
Propagasi perbanyakan                 : Anakan, Umbi
Media Tanam                     : Tanah Kebun 
Perlakuan khusus                     : Pemupukan 

Pusat keragaman buah pisang terdapat di Asia Tenggara diantaranya Indonesia dan Malaysia (Daniells et al., 2001). 

Pisang termasuk tanaman monokotil dari famili Musaceae yang terdiri dari genus Ensete dan Musa. Genus Musa terbagi menjadi 4 golongan yaitu Australimusa (2x=22), Callimusa (2x=20), Rhodoclamys (2x=22), dan Eumusa (2x=22). 

Sebagian besar buah pisang yang dapat dimakan atau pisang konsumsi berasal dari golongan Eumusa, yaitu Musa acuminata (genom A) dan Musa balbisiana (genom B). 

Pisang yang dapat dikonsumsi merupakan diploid atau triploid dari Musa acuminata (genom A), Musa balbisiana (genom B) atau kombinasi keduanya (Perrier et al., 2011). 

Pisang konsumsi dibagi menjadi dua berdasarkan penggunaannya yaitu pisang meja (banana) dan pisang olahan (plantain). Pisang meja sebagian besar merupakan triploid dengan genom AAA sedangkan plantain memiliki genom AAB atau ABB. Selain itu terdapat pula pisang tanpa biji dengan genom diploid dan tetraploid (Harrison dan Schwarzacher, 2007). 

Pisang Mas Kirana termasuk golongan pisang meja dengan genom AA (Espino et al., 1991). Jenis pisang meja yang terkenal di Indonesia diantaranya pisang Ambon Kuning, Ambon Lumut, Barangan, Emas, Lampung, Raja Bulu dan Raja Sere. 

Sedangkan jenis pisang olahan yang terdapat banyak di pasaran adalah Kepok, Kapas, Nangka, Siem, Tanduk, dan pisang Uli. Jenis pisang lainnya yaitu pisang Batu dan pisang Klutuk banyak dimanfaatkan daunnya karena buahnya banyak mengandung biji. Terdapat juga jenis pisang yang diambil seratnya yaitu pisang Manila dan Abaka

Ciri ciri dan Identifikasi tanaman 

Habitus Tanaman

Tinggi Tanaman  : 2 - 4 meter

Diameter Tajuk    : 1 - 3 meter

Tanaman Herba : batang menggandung air

Tanaman pisang termasuk tanaman herba yang besar dan tinggi. Umumnya tinggi tanaman mencapai 3 m (Harrison dan Schwarzacher, 2007). 

Batang dan Percabangan Tanaman

Dilihat dari penampang melintang batang, batang bulat teres padat. tersusun dari pelepah pelepah.

Pisang. Musa paradisiaca. 
Daun Tanaman Pisang

Bentuk daun - Leaf Shape                                : Memanjang dan menyirip
Susunan daun - Leaf Arrangement :                 : Berselang seling
Susunan daun dari batang - Leaf Arr. on Stem : Petiole
Tulang daun - Leaf Venation                             : Sejajar
Pinggir daun - Leaf Margins                              : Rata
Pangkal daun                                                    : Membulat
Ujung daun   - Leaf Tip                                      : Membulat
Warna daun - Leaf Colour                                 : Hijau terang dan hijau gelap
Tangkai daun atau petiole                                  : ada
Ukuran daun - Leaf Size                                    : panjang 1 - 4 meter. lebar 20 - 30 cm
Permukaan daun                                               : Halus dan rata

Daun muncul dari meristem apikal batang tanaman pisang yang berada di dalam tanah berupa corm atau rhizome. 

Upih daun selain merupakan bagian daun yang melekat atau memeluk batang, juga dapat mempunyai fungsi lain memberi kekuatan pada batang tanaman. Dalam hal ini upih daun-daun semuanya membungkus batang, sehingga batang tidak tampak, bahkan yang tampak sebagai batang dari luar adalah upih-upihnya tadi. Hal ini tentu saja mungkin terjadi apabila upih daun amat besar seperti misalnya pada pisang (Musa paradisiaca L.). batang yang tampak pada pohon pisang sebenarnya bukan batang tanaman yang sesungguhnya, oleh karena itu disebut batang semu.

Pisang. Musa paradisiaca.


Daun tanaman pisang hanya tumbuh sebelum munculnya bunga karena bunga muncul di titik tumbuh tanaman. Daun pisang dapat bertahan hidup sekitar 150 hari atau lebih. Jumlah daun yang tumbuh dalam satu tanaman pisang yaitu 25-50 daun dan sekitar 10-15 daun yang fungsional ketika bunga atau jantung muncul. 

Bunga Tanaman Pisang

Tipe pembungaan Letak bunga pada batang, pada ujung batang (flors terminalis)
Warna bunga kuning, putih, ungu

Pisang. Musa paradisiaca.

Bunga pisang muncul di pucuk tanaman pisang diakhir fase vegetatif tanaman diikuti penambahan panjang batang sejati sedangkan batang semu (pseudostem) berhenti tumbuh (Bakry et al., 2009). 
Setelah bunga muncul tidak ada daun yang diproduksi sehingga jumlah daun fungsional harus dipertahankan (Robinson, 2011). 

Pisang. Musa paradisiaca.
Buah Tanaman Pisang

Pisang termasuk buah klimakterik ditandai adanya peningkatan yang tibatiba pada respirasi buah selama proses pematangan buah (Yahia, 2006). 

Pola respirasi ini berbeda dengan pola laju respirasi nonklimakterik seperti buah jeruk yang tidak mengalami peningkatan laju respirasi yang signifikan (Nurjanah, 2002). 

Buah pisang mengalami tiga fase fisiologi selama penyimpanan yaitu 
  1. fase praklimakterik atau fase hijau, 
  2. fase klimakterik atau fase pematangan, dan 
  3. fase senescense atau fase penuaan. 
Buah pisang yang belum matang menghasilkan etilen pada tingkat yang rendah. Selama fase klimakterik atau pematangan buah pisang memproduksi lebih banyak etilen. Etilen ini kemudian menginduksi percepatan perubahan pati menjadi gula, degradasi klorofil, dan pelepasan karotenoid (Mohapatra et al., 2010). 

Pisang. Musa paradisiaca

Panen dan Pascapanen Pisang Panen buah pisang yang baik menghasilkan buah yang segar dengan kualitas yang maksimum.

Posisi buah di apikal, flos terminalis
Susunan buah tandan
Buah Tunggal
Warna buah kuning, merah, hijau
Ukuran Buah tergantung spesies dan kultivar
Muda tergantung spesies dan kultivar
Tua tergantung spesies dan kultivar

Kualitas buah yang baik dapat dihasilkan dengan memperhatikan waktu panen dan cara panen yang tepat. Beberapa indicator.

Penentuan waktu panen pisang yang umumnya digunakan yaitu perbandingan antara daging buah dan kulit, jumlah hari setelah pembungaan, menghilangnya sudut sudut pada setiap buah, mengeringnya daun, dan kerapuhan ujung tandan (Pantastico, 1986). 

Pisang. Musa paradisiaca

Menurut Suhartanto et al. (2012) secara umum waktu panen buah pisang di dataran rendah 85-110 hari setelah muncul jantung, sedangkan di dataran tinggi mencapai 98-115 hari setelah muncul jantung. 

Robinson (2011) menyatakan waktu panen buah pisang Cavendish juga berbeda antara daerah bermusim tropika dengan daerah subtropika. Pisang Cavendish yang ditanam di daerah tropika dapat dipanen berkisar antara 98-117 hari setelah muncul jantung pisang sedangkan di daerah subtropika dapat mencapai 120-204 hari. 

Penentuan waktu panen pisang sebaiknya dalam keadaan matang penuh ditambah dengan ukuran dan jumlah hari terhitung dari keluarnya bunga sampai keadaan matang (Pantastico, 1986). Waktu panen buah pisang berbeda-beda dipengaruhi oleh jenis kultivar, musim, manajemen tanaman, dan lingkungan (Robinson, 2011). 

Pisang Raja Bulu lebih baik dipanen pada 85 hari setelah antesis (HSA) dengan satuan panas sebesar 1.305,5 0C hari menghasilkan masa simpan 11 hari (Rahayu et al., 2014). Sedangkan pisang Mas Kirana lebih baik jika dipanen pada akumulasi satuan panas 600-700 derajat celcius hari (Prasetyo, 2017). 

Menurut Rahayu et al. (2014) buah pisang Raja Bulu yang dipetik tua lebih cepat mencapai kematangan pascapanen lebih cepat dibandingkan dengan buah pisang yang dipetik muda. Buah pisang yang dipetik muda memiliki laju respirasi yang rendah dibandingkan dengan buah pisang yang dipetik tua. 

Penanganan pascapanen buah pisang dimulai setelah buah dipanen sampai buah pisang sampai kepada konsumen. Penanganan pascapanen buah pisang bertujuan untuk mempertahankan kualitas buah dan memperpanjang masa simpan buah. Upaya memperpanjang daya simpan buah pisang telah dilakukan dengan melakukan modifikasi lingkungan sehingga respirasi buah dapat ditekan seperti penyimpanan dalam suhu dingin (Pradhana, 2014) atau pelapisan buah dengan lilin (Nurahmah, 2006). 

Selain itu juga dilakukan upaya untuk mengurangi atau mengoksidasi etilen yang dihasilkan buah sehingga buah dapat disimpan lebih lama, diantaranya yaitu menggunakan kalium permanganat sebagai oksidan etilen (Arista, 2014). Menurut Sholihati (2004) penyerap etilen yaitu kalium permanganat dapat menghambat proses pematangan buah pisang Raja dengan dapat ditekannya produksi etilen dan dapat dipertahankannya warna hijau, tekstur serta aroma buah pisang selama 15 hari pada suhu simpan 28 derajat celcius dan 45 hari pada penyimpanan 13 derajat celcius.

Klimaterik. Sifat ini ditunjukkan dengan karakter buah yang dapat matang setelah pemanenan, sehingga membutuhkan perlakuan yang cermat untuk mempertahankan mutu dan umur simpan pisang ambon (Musa parasidiaca L.) dalam jangka waktu yang lama. 

Kulit pisang ambon (Musa parasidiaca L.) tersusun atas sel-sel yang memiliki komponen sebagian besar adalah air, 78.40 % (Essien et al. 2005). Sedangkan menurut Ahmad (2013), kandungan air yang tinggi membuat jaringan kulit sangat mudah rusak secara kimia dan mekanis, sehingga pisang membutuhkan kemasan yang dapat mengurangi kerusakan. 

Beberapa sifat pisang ambon yang perlu diperhatikan (Mahani 2002): 
  1. Mudah rusak (perishable); 
  2. Mutu tidak seragam (various grade); 
  3. Kamba (bulky). 
Ketiga sifat tersebut menimbulkan kesulitan tersendiri dalam proses penanganan pascapanennya. 

Sifatnya yang mudah rusak mengharuskan produsen untuk memberikan perlakuan khusus pada kegiatan pascapanen, mutu yang tidak seragam memerlukan proses seleksi dan pemilahan, sementara sifat Kamba (bulky) sangat memberatkan biaya transportasi. 

Kerusakan mekanis pada buah pisang yang sering terjadi adalah memar yaitu rusak pada kulit dan daging buah yang sangat tampak ketika buah telah matang. Memar pada buah pisang yang sering terjadi selama penanganan dan distribusi mengakibatkan kerusakan yang merugikan. Memar pada buah diakibatkan oleh proses pengangkutan yang terdapat adanya benturan antara buah dengan buah, benturan antara buah dengan wadah atau kemasan, serta gesekan dan himpitan dengan wadah atau kemasan. 

Pengemasan Pengemasan produk hortikultura adalah penempatan komoditas segar ke dalam satu wadah yang memenuhi syarat sehingga mutu tetap terjaga atau hanya mengalami sedikit penurunan dan dapat diterima oleh konsumen akhir dengan nilai yang tinggi (Romalasari 2011). Berkaitan dengan tujuan dari pengemasan, kemasan yang digunakan untuk pengangkutan produk hortikultura haruslah dapat menjalankan fungsinya dengan baik serta efisien. 

Penanganan produk hortikultura dalam jumlah besar memerlukan penggunaan kemasan yang lebih baik untuk meminimalkan kerugian dan menekan biaya pengangkutan. Tujuannya adalah untuk melindungi produk dari kerusakan dalam penanganan, pengangkutan, dan penyimpanan serta untuk memfasilitasi penanganan yang mudah termasuk dalam menghitung kemasan dengan ukuran yang seragam (Ahmad 2013). 

Menurut Satuhu (2004), bahan dan bentuk kemasan secara umum dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 
  1. Kemasan langsung Yakni kemasan utama yang langsung berhubungan dengan buah yang dikemas, bahan pengemas utama ini dapat berupa karung, plastik, kertas, atau bahkan daun. 
  2. Kemasan tidak langsung Merupakan kemasan kedua dari buah yang tidak bersentuhan langsung. 
Wadah kedua dimasukkan untuk melindungi bahan dari kekuatan fisik dan mekanis, terutama untuk memudahkan pengaturan dalam gudang penyimpanan dan distribusi, serta memudahkan pengaturan dalam alat angkut.

Bahan pengemas jenis ini dapat dibuat dari kardus, peti kayu, peti plastik, peti kardus, peti sterofoam, dan keranjang bambu. Kerusakan Mekanis Sayuran dan buah-buahan sebagai hasil produk pertanian merupakan bahan yang sangat mudah mengalami kerusakan. 

Salah satu masalah utama pada kegiatan pascapanen adalah kerusakan mekanis. Menurut Widodo (2008), penyebab kerusakan mekanis selama pengangkutan antara lain : 
  1. Isi kemasan terlalu penuh (over packing) Isi kemasan yang terlalu penuh menyebabkan meningkatnya kerusakan tekan atau kompresi karena adanya tambahan tekanan tutup kemasan. 
  2. Isi kemasan kurang Isi kemasan yang kurang menyebabkan kerusakan vibrasi pada lapisan atas. Hal ini disebabkan karena adanya ruang diatas bahan sehingga selama pengangkutan bahan bagian atas akan terlempar-lempar dan saling berbenturan. 
  3. Kelebihan tumpukan Tumpukan bahan yang terlalu tinggi didalam kemasan menyebabkan tekanan yang besar pada buah lapisan bawah, sehingga meningkatkan kerusakan kompresi. 
Sedangkan penyebab kerusakan mekanis yang biasa terjadi pada bahan dalam kemasan selama pengangkutan, yaitu kerusakan karena tekanan dan kompresi, kerusakan akibat benturan dan kerusakan akibat vibrasi. Tinggi susunan komoditas dalam kemasan tergantung pada kecepatan respirasi komoditas. Bila susunannya terlalu padat dan tebal maka bagian tengah akan menjadi lebih panas akibat respirasi yang tidak dapat keluar. Kerusakan mekanis yang terdeteksi langsung setelah simulasi transportasi hanya sedikit, oleh karena itu dibutuhkan penyimpanan agar kerusakan mekanis dapat terdeteksi semua karena berlangsungnya aktivitas respirasi (Oktaviani 2013).

Kesesuaian Lahan dan Adaptasi Tanaman Pisang

Ketinggian tempat altitude        : 12 - 1800 m dpl
Kesesuaian suhu                      : 15 - 38 derajat celcius
Kesesuaian tanah                     : Tanah dengan drainase baik
Kesesuaian curah hujan           : 1.000 - 2.000 mm per tahun
Kesesuaian cahaya                  : Semi Shade, Full Sun
Pertumbuhan Tanaman            : Cepat
Kebutuhan Air                           : Banyak
Kebutuhan Perawatan              : Minimal

Ekologi dan Fisiologi Tanaman Pisang 
Tanaman pisang dapat tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang gembur dengan drainase yang baik. Tumbuh pada pH tanah 4,5-7,5 dan optimum pada pH 5,8-6,5. Tekstur tanah granular antara pasir dan tanah liat baik untuk pertanaman pisang. Kedalaman solum antara 1-1,2 m dengan tidak terendam air. Curah hujan yang dibutuhkan sekitar 30 mm per minggu. 

Tanaman pisang dapat tumbuh pada rentang suhu 15-38 derajat Celcius dan optimum pada suhu 27 derajat celcius. Tanaman pisang berhenti tumbuh pada suhu 10 derajat Celcius dan akan mengalami terbakarnya daun bila suhu diatas 38 derajat celcius. 

Pisang. Musa paradisiaca.

Faktor cuaca lain yang penting diperhatikan pada pertanaman pisang yaitu angin. Daun pisang rentan rusak akibat angin. Angin dengan kecepatan antara 20 – 50 km/jam dapat mengakibatkan kerusakan yang parah pada daun pisang. 

Selain itu faktor lain yang perlu diperhatikan yaitu cahaya dan fotoperiodisme. Cuaca mendung atau hujan selama tiga bulan selama tanaman hidup dapat menurunkan bobot tandan pisang. Fotoperiodisme belum ditemukan berpengaruh terhadap pembungaan namun berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan daun baru (Robinson, 2011). 

Perbanyakan
Perbanyakan tanaman dengan biji, Stek, Layering

Klasifikasi Tanaman

Clade         : Commelinids
Order         : Zingiberales
Family        : Musaceae
Genus        : Musa Linnaeus, 1753
Species      : 
Spesies
Musa acuminata
Musa balbisiana
Musa paradisiaca 
Musa sapientum 

Manfaat Tanaman
Manfaat tanaman pisang selain dimakan buahnya sebagai sumber vitamin dan energi, juga sebagai  sayuran .

Buah
Berdasarkan cara konsumsi buahnya, pisang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu pisang meja (dessert banana) dan pisang olah (plantain, cooking banana). Pisang meja dikonsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang, seperti pisang ambon, pisang susu, pisang raja, pisang seribu, dan pisang sunripe. Pisang olahan dikonsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar, atau dikolak, seperti pisang kepok, siam, kapas, tanduk, dan uli.

Buah pisang diolah menjadi berbagai produk, seperti sale, kue, ataupun arak (di Amerika Latin).

Selain memberikan kontribusi gizi lebih tinggi daripada apel, pisang juga dapat menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Termasuk ketika otak mengalami keletihan. Beragam jenis makanan ringan dari pisang yang relatif populer antara lain kripik pisang (Lampung), sale pisang (Bandung), pisang molen (Bogor), dan epe (Makassar).

Pisang mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan energi cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Pisang juga mengandung vitamin, yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmiter dalam kelancaran fungsi otak.

Bunga atau jantung pisang
Saya adalah penggemar sayuran dari Jantung pisang. Jantung pisang digunakan sebagai sayuran pada masakan Asia Selatan dan Asia Tenggara, baik mentah atau dikukus dengan saus atau dimasak dalam sup, kari, dan makanan goreng. Rasanya menyerupai artichoke, baik bagian daging dari bracts maupun jantung dapat dimakan. Selain itu, jantung pisang juga digunakan pada sebagian daerah di Indonesia sebagai obat luar.

Bonggol pisang
Bonggol pisang merupakan sumber serat bagi tubuh dan dapat dioleh menjadi keripik bonggol pisang. Selain itu, bonggol pisang juga dapat diolah menjadi pupuk cair untuk berbagai tanaman seperti bawang merah.

Nilai Energi Pisang
Nilai energi pisang sekitar 136 kalori untuk setiap 100 gram yang secara keseluruhan berasal dari karbohidrat. Nilai energi pisang dua kali lipat lebih tinggi daripada apel. Apel dengan berat sama (100 gram) hanya mengandung 54 kalori.

Karbohidrat pisang menyediakan energi sedikit lebih lambat dibandingkan dengan gula pasir dan sirup, tetapi lebih cepat dari nasi, biskuit, dan sejenis roti. Oleh sebab itu, banyak atlet saat jeda atau istirahat mengonsumsi pisang sebagai cadangan energi.

Kandungan energi pisang merupakan energi instan yang mudah tersedia dalam waktu singkat, sehingga bermanfaat dalam menyediakan kebutuhan kalori sesaat. Karbohidrat pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap, sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat. Karbohidrat pisang merupakan cadangan energi yang sangat baik digunakan dan dapat secara cepat tersedia bagi tubuh.

Gula pisang merupakan gula buah, yaitu terdiri dari fruktosa yang mempunyai indek glikemik lebih rendah dibandingkan dengan glukosa, sehingga cukup baik sebagai penyimpan energi karena sedikit lebih lambat dimetabolisme. Sehabis bekerja keras atau berpikir, selalu timbul rasa kantuk. Keadaan ini merupakan tanda-tanda otak kekurangan energi, sehingga aktivitas secara biologis juga menurun.

Untuk melakukan aktivitasnya, otak memerlukan energi berupa glukosa. Glukosa darah sangat vital bagi otak untuk dapat berfungsi dengan baik, antara lain diekspresikan dalam kemampuan daya ingat. Glukosa tersebut terutama diperoleh dari sirkulasi darah otak karena glikogen sebagai cadangan glukosa sangat terbatas keberadaannya.

Glukosa darah terutama didapat dari asupan makanan sumber karbohidrat. Pisang adalah alternatif terbaik untuk menyediakan energi di saat-saat istirahat atau jeda, pada waktu otak sangat membutuhkan energi yang cepat tersedia untuk aktivitas biologis.

Namun, kandungan protein dan lemak pisang ternyata kurang bagus dan sangat rendah, yaitu hanya 2,3 persen dan 0,13 persen. Meski demikian, kandungan lemak dan protein pisang masih lebih tinggi dari apel yang hanya 0,3 persen. Karena itu, tidak perlu takut kegemukan walau mengonsumsi pisang dalam jumlah banyak.

Kandungan Mineral Pada Pisang
Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, kalsium, dan besi. Bila dibandingkan dengan jenis makanan nabati lain, mineral pisang, khususnya besi, hampir seluruhnya (100 persen) dapat diserap tubuh. Berdasarkan berat kering, kadar besi pisang mencapai 2 miligram per 100 gram dan seng 0,8 mg. Bandingkan dengan apel yang hanya mengandung 0,2 mg besi dan 0,1 mg seng untuk berat 100 gram.

Kandungan vitaminnya sangat tinggi, terutama provitamin A, yaitu betakaroten, sebesar 45 mg per 100 gram berat kering, sedangkan pada apel hanya 15 mg. Pisang juga mengandung vitamin B, yaitu tiamin, riboflavin, niasin, dan vitamin B6 (piridoxin).

Kandungan vitamin B6 pisang cukup tinggi, yaitu sebesar 0,5 mg per 100 gram. Selain berfungsi sebagai koenzim untuk beberapa reaksi dalam metabolisme, vitamin B6 berperan dalam sintetis dan metabolisme protein, khususnya serotonin. Serotonin diyakini berperan aktif sebagai neurotransmiter dalam kelancaran fungsi otak.

Vitamin B6 juga berperan dalam metabolisme energi yang berasal dari karbohidrat. Peran vitamin B6 ini jelas mendukung ketersediaan energi bagi otak untuk aktivitas sehari-hari.

Lokasi Pemotretan

Lokasi pemotretan di Bekasi, Bogor, Jawa Barat

Detail :
Camera maker : Nikon Corporation
Camera model : Nikon D5200
F Stop : f/18
Exposure time : 1/160 sec.
ISO Speed : ISO 400 
Focal lengh : 78 mm
Lens : Sigma 70-300mm f/4-5.6 DG Macro 
Kamus Identifikasi tumbuhan dan tanaman serta Sumber Informasi untuk Pengenalan Tumbuhan dan Tanaman 
Planter and Forester

0 Response to "Mengenal Buah Pisang. Musa paradisiaca."

Post a comment

Arsip Blog

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel