google.com, pub-6935017799501206, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Apa itu Antioksidan? - PLANTER AND FORESTER

Apa itu Antioksidan?

Apa itu Antioksidan?
Antioksidan

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat membatasi efek dari reaksi oksidasi dalam tubuh (Wildman 2001). Efek yang diberikan oleh antioksidan terhadap tubuh dapat secara langsung yaitu dengan mereduksi radikal bebas dalam tubuh dan secara tidak langsung yaitu dengan mencegah terjadinya pembentukan efek radikal. Antioksidan pada dasarnya terdapat di dalam tubuh manusia, tetapi jumlah radikal bebas yang besar menyebabkan tubuh membutuhkan antioksidan dari luar tubuh (Romansyah 2011).

Punica granatum, Delima, Salah satu buah yang banyak mengandung Antioksodan

Radikal bebas merupakan atom atau gugus atom yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Radikal bebas bersifat sangat reaktif dan dapat bereaksi dengan protein, lipida, karbohidrat dan DNA. Radikal bebas akan mengambil elektron dari molekul stabil terdekat sehingga mengakibatkan munculnya reaksi berantai pembentukan radikal bebas. Radikal bebas dapat bersumber dari polutan, makanan, minuman, radiasi, pestisida dan hasil proses oksidasi dalam tubuh. Jumlah radikal bebas dalam tubuh dapat memicu timbulnya
berbagai macam gangguan kesehatan degeneratif seperti kanker dan penyakit kardiovaskular (Benhar et al. 2002).

Antioksidan mempunyai peran yang berbeda dalam sistem pangan dan biologis. Antioksidan yang berperan untuk menghambat proses oksidasi lemak atau minyak mempunyai fungsi sebagai pengawet, sedangkan dalam sistem biologis, antioksidan berperan menangkal radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat melawan kerusakan oksidatif. Ada dua cara dalam mendapatkan antioksidan yaitu dari luar tubuh (eksogen) dan dalam tubuh (endogen). Antioksidan eksogen diperlukan untuk mengatasi ketidakmampuan antioksidan endogen  dalam mengatasi stress oksidatif yang berlebih. Stres oksidatif merupakan keadaan saat
mekanisme antioksidan tidak cukup mencegah oksigen reaktif. Antioksidan eksogen diperoleh dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung vitamin C, vitamin E, β-karoten dan antioksidan sintetik sedangkan contoh antioksidan endogen adalah glutation peroksidase (GSH.Px), enzim superoksida dismutase (SOD) dan katalase (Huang et al. 2005).

Senyawa antioksidan digolongkan menjadi berbagai macam kategori misalnya berdasarkan sumbernya, antioksidan dibedakan menjadi dua yaitu antioksidan alami dan sintetik. Antioksidan alami merupakan antioksidan yang diperoleh dari hasil ekstraksi bahan alami atau terbentuk dari reaksi-reaksi kimia selama proses pengolahan. Antioksidan alami dapat diperoleh dari berbagai sumber bahan pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, rempah-rempah dan lain-lain. Contoh dari antioksidan alami adalah vitamin C, vitamin E, senyawa
fenolik, senyawa flavonoid, kumarin, tanin, saponin dan β–karoten. Senyawa antioksidan alami dalam tumbuhan umumnya adalah senyawa fenolik dan polifenolik seperti golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol dan asam-asam organik polifungsional. Golongan flavonoid yang memiliki fungsi sebagai antioksidan meliputi flavon, flavonol, isoflavon, katekin dan kalkon, sedangkan turunan asam sinamat meliputi asam kafeat, asam ferulat, asam klorogenat dan lain-lain. 

Antioksidan sintetik merupakan antioksidan yang diperoleh sebagai hasil dari sintesis reaksi kimia. Contoh antioksidan sintetik adalah BHT, BHA dan TBHQ (Santoso 2005). Antioksidan alami lebih banyak diminati dibandingkan dengan antioksidan sintetik karena antioksidan sintetik diketahui dapat menimbulkan karsinogenesis (Rohman et al. 2005).

Antioksidan berdasarkan fungsinya bagi tubuh dibagi menjadi tiga macam yaitu antioksidan primer, sekunder dan tersier. Antioksidan primer dapat menghentikan reaksi rantai radikal bebas dengan berfungsi sebagai pendonor atom H atau elektron pada radikal bebas dan berdampak pada pembentukan produk yang lebih stabil. Antioksidan primer dapat memutuskan tahap inisiasi yang bereaksi dengan sebuah radikal bebas atau menghambat reaksi propagasi dengan cara bereaksi dengan radikal peroksil atau alkoksida. Contoh antioksidan primer yang memiliki mekanisme ini adalah tokoferol, flavonoid, asam askorbat dan protein pengikat logam. Antioksidan sekunder bekerja dengan cara mengikat atau mengkelat ion logam yang bertindak sebagai penangkal oksigen, menangkap radikal, mengubah hidroperoksida menjadi molekul non-radikal, menyerap radiasi UV, menginaktifkan oksigen singlet dan mencegah terjadinya reaksi berantai radikal bebas. Salah satu contoh antioksidan sekunder yang dibuat secara alami yaitu vitamin C. Kebutuhan manusia akan vitamin C tidak dapat ditentukan secara pasti. Namun, telah diketahui rata-rata kebutuhan vitamin C pada manusia per hari antara 45-75 mg. Keadaan stres yang berkelanjutan dan terapi obat-obatan bisa meningkatkan kebutuhan akan vitamin C. Antioksidan tersier bekerja
memperbaiki kerusakan biomolekul (sel dan jaringan) yang disebabkan oleh radikal bebas. Contoh antioksidan tersier adalah enzim-enzim yang memperbaiki DNA dan metionin sulfida reduktase (Winarsi 2007).

Pengukuran aktivitas antioksidan dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti metode DPPH, ORAC, ABTS (TEAC), CUPRAC dan FRAP. Metode aktivitas antioksidan yang sering digunakan yaitu metode DPPH. Metode DPPH untuk menentukan aktivitas antioksidan dalam sampel yang akan diujikan dengan melihat kemampuannya dalam menangkal radikal bebas DPPH. Sumber radikal bebas dari metode ini adalah senyawa 1.1-difenil-2-pikrilhidrazil. Prinsip dari metode ini adalah adanya donasi atom hidrogen dari substansi yang  diujikan kepada radikal DPPH menjadi senyawa non-radikal difenilpikrilhidrazin yang akan ditunjukkan oleh perubahan warna. Perubahan warna yang akan terjadi adalah perubahan dari larutan yang berwarna ungu menjadi berwarna kuning yang diukur pada spektrum absorpsi antara 515-520 nm pada larutan organik seperti metanol atau etanol (Molyneux 2004).

Kelebihan dari metode DPPH adalah secara teknis sederhana, dapat dikerjakan dengan cepat, hanya membutuhkan alat gelas sederhana dan spektrofotometer (Karadag et al. 2009). Kelemahan metode DPPH adalah radikal DPPH hanya dapat dilarutkan dalam media organik (terutama media alkoholik seperti metanol dan etanol). Selain itu, absorbansi radikal DPPH setelah bereaksi dengan antioksidan dapat berkurang dan dipengaruhi adanya cahaya, oksigen dan tipe pelarut (Magalhaes et al. 2008). Kandungan senyawa antioksidan pada ekstrak air daun sirsak antara lain steroid atau terpenoid, flavonoid, kumarin, alkaloid, saponin dan tanin (Purwatresna 2012). 
Punica granatum, Delima tanaman kaya antioksidan


Detail Foto :
Camera maker : Nikon Corporation
Camera model : Nikon D5200
F Stop : f/ 7.1
Exposure time : 1/50 sec.
ISO Speed : ISO 250 
Focal lengh : 270
Lens : Sigma 70-300mm f/4-5.6 DG Macro 

0 Response to "Apa itu Antioksidan?"

Post a Comment

Arsip Blog

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel