google.com, pub-6935017799501206, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Mengenal Tanaman Jambu Air, Syzygium aqueum, Buah yang enak dan menyegarkan - PLANTER AND FORESTER

Mengenal Tanaman Jambu Air, Syzygium aqueum, Buah yang enak dan menyegarkan

Mengenal Tanaman Jambu Air, Syzygium aqueum, Buah yang enak dan menyegarkan 

Jambu air merupakan salah satu komoditas buah yang telah banyak dibudidayakan karena mempunyai kemampuan adaptasi dan toleransi yang tinggi terhadap semua jenis tanah. Karakter lengkap tanaman tersebut masih belum diketahui. 

Karakterisasi morfologi dari beberapa varietas jambu air menunjukkan banyak keunikan berdasarkan karakter generatif, seperti bunga dan buah. 

Perbedaan karakter vegetatif, seperti batang dan daun, lebih sedikit dibandingkan karakter generatif. Perbedaan karakter morfologi disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. 

Tanaman jambu air berasal dari Indo Cina (Rukmana 1997) dan diduga juga berasal dari kawasan Malaysia hingga Indonesia (Ashari 2006a). Pusat penyebaran tanaman jambu air di Indonesia terdapat di Pulau Jawa (Sulastri 2004). Jambu air telah banyak dibudidayakan karena mempunyai kemampuan adaptasi dan toleransi yang tinggi terhadap semua jenis tanah (Iriani et al. 2014). 

Menurut Santoso et al. (2005) tanaman yang mampu beradaptasi secara luas merupakan tanaman yang ideal karena dapat dikembangkan di berbagai wilayah dengan skala cukup besar untuk menjamin keberlanjutan produksi. Produksi tanaman jambu air di Indonesia pada tahun 2014 adalah sebesar 91.975 ton dengan hasil produktivitas sebesar 6,95 ton/Ha (Kementan 2015). 


Tanaman jambu air dikelompokkan ke dalam dua spesies, yaitu Syzygium aqueum (jambu air) dan Syzygium samarangense (jambu semarang). Saat ini masyarakat luas lebih mengenal keduanya sebagai jambu air (Hariyanto 2003). 

Menurut Rukmana (1997) S. aqueum disebut juga sebagai jambu air masam yang memiliki ciri buah berbentuk bulat dengan bagian ujung melebar dan langsung mengecil pada bagian pangkal, sedangkan Syzygium samarangense disebut juga sebagai jambu air manis yang memiliki bentuk buah memanjang dan kompak. 

Koleksi tanaman buah jambu air di Mekarsari sangat beragam, antara lain: jambu air Citra, Lilin Hijau, Lilin Merah, Sukaluyu, Camplong, dan lain sebagainya (MUS 2015). 

Tanaman jambu air mempunyai beberapa potensi untuk dimanfaatkan. Batang jambu air dapat dijadikan sebagai bahan bangunan (Verheij dan Coronel 1997) dan kerajinan tangan (Morton 1987). Menurut Palanisamy et al. (2011) ekstrak daun jambu air dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat, salah satunya sebagai antioksidan. Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa daun jambu air memiliki aktivitas antidiare (Ghayur et al. 2006), antihiperglikemik (Manaharan et al. 2012; Shahreen et al. 2012; Ragasa et al. 2014), antimikroba (Reddy dan Jose 2011), analgesik, antiinflamasi, dan antidepresi (Mollika et al. 2014; Majumder et al. 2014), serta imunostimulan, sitotoksik, dan antikolinesterasi (Peter et al. 2011). 

Daun muda jambu air dapat digunakan sebagai pembungkus tape ketan (Verheij dan Coronel 1997). Bunga jambu air, khususnya Syzygium samarangense digunakan untuk mengobati demam dan menghentikan diare (Morton 1987). Buah jambu air dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan (Rukmana 1997) serta dapat dimakan secara langsung dalam keadaan segar maupun sebagai campuran rujak (Ashari 2006b). 

Buah jambu air memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap (Rukmana 1997). Menurut Verheij dan Coronel (1997) 80 % atau lebih bagian buah dapat dimakan. Komposisi tiap 100 gram bagian buah yang dapat dimakan mengandung air lebih dari 90 %, protein 0,3 g, tidak ada lemak, karbohidrat 3,9 g, serat 1 g, vitamin A 253 SI, vitamin B1 dan B2 sedikit, vitamin C 0,1 mg, dan mengandung energi sebesar 80 kJ/100 g.




Nama Populer - Pop name    :  Jambu AIr, Cincalo
Nama Latin - Latin Name        :  Eugenia aqueum
Family                           :  Myrtaceae
Origin - Daerah Asal                 :  Indocina
Tipe Tanaman                          :  Tanaman Buah
Propagasi perbanyakan                 :  Biji dan cangkok
Media Tanam                     :  Tanah Kebun 
Perlakuan khusus                     :  Pemangkasan dan Pemupukan 

Ciri ciri dan Identifikasi tanaman 

Habitus Tanaman

Tinggi Tanaman  : hingga 20 m

Diameter Tajuk    : hingga 15 m

Karakter Morfologi 

Beberapa Varietas Tanaman Jambu Air Jambu air merupakan tanaman tahunan yang memiliki perawakan berupa pohon. Menurut Chi et al. (2014) secara umum jambu air (S. samarangense) memiliki tinggi sekitar 12–15 m, namun pohon pada kebun yang dikelola memiliki tinggi berkisar 4–5 m. Hal ini tidak berbeda jauh dengan hasil pengamatan tinggi pohon pada varietas jambu air yang diamati yakni berkisar 4,2–8,1 m. 

Menurut Margianasari et al. (2013) pohon yang berasal dari perbanyakan vegetatif memiliki tajuk lebih pendek. Kondisi tajuk pada beberapa varietas jambu air yang diamati, yaitu: sedang, sedang–rimbun, dan rimbun. Bentuk tajuk terdiri atas tiga jenis mengacu pada Booth (1983), yaitu: menyebar (spread), kerucut (pyramidal), dan tinggi meramping (columnar). Bentuk tajuk menyebar merupakan bentuk tajuk yang paling banyak dimiliki oleh beberapa varietas jambu air, antara lain: Varietas Citra, Sukaluyu, Camplong, Madura Putih, Rose Apple, Apel Super, Neem, Lilin Hijau, Semarang Darah, dan beberapa pohon dari Varietas Lilin Merah, sedangkan bentuk kerucut dimiliki oleh Varietas Mutiara Hitam dan King Rose Apple. Varietas Cincalo (Gambar 1m) dan beberapa pohon dari Varietas Lilin Merah (Gambar 1i) memiliki bentuk tajuk tinggi meramping. Bentuk tanaman yang berbeda dipengaruhi oleh faktor genetik (Rao dan Hodgkin 2002).

Batang dan Percabangan Tanaman Jambu

Morfologi Batang Tanaman jambu air memiliki bentuk batang gilig (teres) dengan permukaan kulit mengelupas. Arah tumbuh batang tegak lurus dengan percabangan simpodial. Batang berwarna coklat kehitaman dan memiliki tipe kulit berkayu kasar.

Daun Tanaman Jambu Air

Bentuk daun - Leaf Shape                                : Lancet dan Ovate
Susunan daun - Leaf Arrangement :                 : Pinnate
Susunan daun dari batang - Leaf Arr. on Stem : Petiole
Tulang daun - Leaf Venation                             : Menyirip
Pinggir daun - Leaf Margins                              : Rata, Serrate dan ada yang bergelombang
Pangkal daun                                                    : 
Ujung daun   - Leaf Tip                                      : Acuminate
Warna daun - Leaf Colour                                 : Hijau terang
Tangkai daun atau petiole                                  : pendek
Ukuran daun - Leaf Size                                    : panjang 6 - 25 cm, lebar 2 - 10 cm
Permukaan daun                                               : rata glabrous

Morfologi Daun jambu air memiliki susunan daun berhadapan dengan struktur daun tunggal. Jambu air memiliki beberapa bentuk helai daun, yaitu: lonjong, lonjong menyempit, lanset, dan lanset terbalik. 

Bentuk helai daun lonjong merupakan bentuk helai daun yang paling dominan pada daun jambu air. Menurut Hariyanto (2003) jambu air memiliki bentuk helai daun bulat telur sampai lonjong atau elips (Syzygium  aqueum) dan lonjong-lebar, elips lonjong, lanset elips atau elips (S. samarangense). 

Tsukaya (2005) melaporkan bahwa perbedaan pada bentuk helai daun dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Daun jambu air memiliki pertulangan helai daun menyirip. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pangkal helai daun jambu air secara umum berbentuk melekuk dengan ujung helai daun meruncing. Daun jambu air memiliki dua tipe tepi helai daun yaitu rata dan bergelombang. 

Daun jambu air secara umum memiliki tepi helai daun rata. Hal yang sama juga dikemukakan Hariyanto (2003) bahwa daun jambu air memiliki tepi helai daun yang rata. Tepi helai daun bergelombang dimiliki oleh beberapa varietas, meliputi: Varietas Mutiara Hitam, Rose Apple, dan Apel Super (Tabel 2). Menurut Hariyanto (2003) jambu Varietas Apel lebih mudah dibedakan dari varietas lain karena memiliki ciri khusus yakni tepi helai daun bergelombang.

Permukaan daun jambu air gundul (glabrous), pucat (glaucous), dan memiliki tekstur seperti kertas. Daun jambu air memiliki aroma harum yang kuat ketika diremas. Daun pada sisi adaksial berwarna hijau tua, sedangkan daun pada sisi abaksial berwarna hijau muda. Daun muda jambu air rata-rata berwarna coklat kehijauan hingga hijau kecoklatan, namun berbeda dengan Varietas Sukaluyu yang memiliki warna daun muda ungu cerah dan merah pudar, Varietas serta Varietas Apel Super dengan warna merah tua kecoklatan. Panjang daun jambu air berkisar 6,3–24,6 cm dengan lebar daun 2,6–9,9 cm dan memiliki panjang tangkai daun berkisar 0,2–0,9 cm.

Panjang tangkai daun jambu air tergolong pendek (Hariyanto 2003). Menurut Tjitrosoepomo (2009) bentuk dan ukuran tangkai daun sangat berbeda berdasarkan jenis tanaman, bahkan pada satu tanaman ukuran dan bentuknya dapat pula berbeda.

Bunga Tanaman Jambu Air
Tipe pembungaan letak bunga pada batang pada ujung batang (flors terminalis) dan pada ketiak daun (flos axilaris)
Warna bunga kuning kehijauan
Tangkai bunga atau pedicellus berkelompok

Morfologi Bunga jambu air termasuk ke dalam bunga lengkap yakni terdiri atas benang sari, putik, kelopak, dan mahkota serta tangkai bunga. Bunga jambu air memiliki simetri bunga radial. 
Tanaman jambu air secara umum memiliki letak bunga axillary dan terminal dengan tipe perbungaan compound dichasia, simple dichasia, dan beberapa compound cyme, namun banyak varietas yang diamati memiliki dominasi letak bunga axillary dengan tipe perbungaan compound dichasia . 
Menurut Verheij dan Coronel (1997) jambu air memiliki letak bunga terminal dan di ketiak daun (axillary). Diameter bunga jambu air yang diamati berkisar 2,5–4,8 cm. Panjang tangkai bunga jambu air berkisar antara 0–3 cm. Jumlah kuncup bunga jambu air per tandan berkisar antara 1–31 kuncup, sedangkan jumlah bunga mekar per tandan berkisar 1–18 kuntum. Jumlah kuncup dan bunga mekar pada Varietas Lilin Hijau bisa mencapai 31 kuncup dan 14 bunga mekar, hasil ini lebih banyak dibandingkan varietas lain. 

Menurut Hariyanto (2003) jambu Lilin Hijau unggul di bidang rasa dan produksi buah. Buah jambu Lilin Hijau sangat lebat, hingga daun tanaman dapat tertutupi oleh buah. Perlekatan bagian-bagian bunga memiliki beberapa tipe dalam satu bunga, yaitu: connate, distinct, dan free. Kelopak bunga jambu air berjumlah empat dan saling berlekatan (synsepalous). Kelopak bunga jambu air pada beberapa varietas yang diamati memiliki tiga tipe warna, yaitu: putih kehijauan, putih kekuningan, atau putih hijau kekuningan. Mahkota bunga berjumlah empat dan saling bebas (apopetalous). Mahkota bunga memiliki warna putih kekuningan.

Bunga jambu air memiliki tipe benang sari bebas tidak saling berlekatan (poliandrus) dengan struktur filamentous. Jumlah benang sari berkisar 400–700 benang sari pada masing-masing bunga. Benang sari memiliki panjang 1,9–4,6 cm. Tipe perlekatan kepala sari pada tangkai sari jambu air yaitu dorsifix (di tengah) dan subbasifix (agak tepi)

Kepala sari berwarna krem dan tangkai sari berwarna putih kekuningan. Bentuk kepala putik bunga jambu air adalah melebar (diffuse) dan memiliki warna putik putih kehijauan. Panjang putik tanaman jambu air berkisar antara 2,0–4,5 cm. Kedudukan bakal buah inferior dengan tipe plasentasi bakal buah axil. Menurut Rao dan Hodgkin (2002) perbedaan karakter morfologi warna pada bagian-bagian bunga disebabkan oleh faktor genetik.

Buah Tanaman Jambu Air

Posisi buah di ujung dan ketiak
Susunan buah dompolan
Buah Tunggal, 
Warna buah hijau, merah, putih dan kuning pucat
Ukuran Buah kecil, sedang dan besar
Muda kuning merah atau sesuai varietas
Tua hinau, merah, putih atau sesuai varietas

Morfologi Buah Jambu air memiliki tipe buah tunggal, berdaging, dan termasuk ke dalam buah buni (berry). Buah jambu air memiliki permukaan kulit yang licin. Jumlah buah per tandan yang dapat diamati berkisar 1–6 buah. Panjang tangkai buah berkisar 0–3,4 cm. Bentuk buah bervariasi, yaitu: lonceng, bulat–bulat telur, lonjong–lonjong berlekuk, bulat segitiga, bulat melebar, bulat, bulat besar, lonjong, bulat–bulat memanjang. Bentuk buah yang berbeda dapat digunakan sebagai pembeda antar varietas. Warna kulit buah muda bervariasi  dengan warna kulit buah matang dan warna daging buah matang.



Bobot buah jambu air berkisar 15–107 gram dengan panjang buah 3,1–7,3 cm dan lebar buah 3,8–6,9 cm. Ketebalan buah berkisar 0,8–3 cm. Kandungan Padatan Total Terlarut (PTT) buah berkisar 3,1–12 o brix. Kandungan PTT ini dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat kemanisan buah, semakin tinggi nilai PTT maka buah semakin manis. Hal ini didukung oleh penelitian Ihsan dan Wahyudi (2010) bahwa semakin tinggi kandungan padatan terlarut, maka semakin tinggi pula kadar sukrosa pada bahan uji. Hasil pengamatan rasa buah menunjukkan bahwa Varietas Citra, Mutiara Hitam, dan Cincalo memiliki rasa daging buah sangat manis dan secara umum buah jambu air memiliki aroma buah harum kuat ketika dibelah.

Buah jambu air memiliki tekstur renyah dan sangat renyah dengan kandungan air rendah, sedang, hingga tinggi. Tekstur sangat renyah dimiliki oleh Varietas Citra dengan kandungan air sedang–tinggi dan King Rose Apple dengan kandungan air sedang . Karakter morfologi buah memiliki lebih banyak keunikan dibandingkan karakter morfologi yang lain, sehingga untuk membedakan antar varietas jambu air, karakter ini dapat dijadikan sebagai parameter utama. 

Morfologi Biji Buah jambu air ada yang berbiji dan ada yang tidak berbiji. Jumlah biji paling banyak terdapat pada Varietas Sukaluyu yakni dapat mencapai tujuh butir. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Varietas Camplong dan Cincalo tidak memiliki biji. Jambu air memiliki biji berwarna putih, putih kecoklatan, coklat, coklat kehitaman. 

Panjang biji jambu air berkisar 0,4–2,1 cm dan lebar 0,4–2,0 cm dengan total bobot biji 0–5 gram. Menurut Verheij dan Coronel (1997) S. aqueum memiliki biji berjumlah 1–6 butir dan S. samarangense memiliki biji 0–2 butir dengan diameter mencapai 0,8 cm.

Bentuk biji jambu air secara umum dapat dikelompokkan menjadi bulat, bulat telur hingga pipih. Menurut Verheij dan Coronel (1997) biji S. aqueum berbentuk membulat dan berukuran kecil serta S. samarangense memiliki biji berbentuk bulat, memipih. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Morton (1987) bahwa jambu air khususnya S. samarangense memiliki biji berbentuk bulat.

Karakter morfologi beberapa varietas jambu air berdasarkan karakter generatif berupa bunga dan buah memiliki banyak keunikan pada masing-masing varietas. Karakter buah dapat digunakan sebagai karakter pembeda yang paling dominan antar varietas. Karakter vegetatif tanaman berupa batang dan daun memiliki perbedaan karakter lebih sedikit dibandingkan karakter generatif tanaman. 

Perbedaan karakter morfologi disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Daun sisi abaksial Varietas Citra memiliki banyak stomata, sedangkan sisi adaksial daun tidak terdapat stomata. Trikoma pada kedua sisi sayatan daun baik abaksial dan adaksial tidak ditemukan. Varietas Citra memiliki rata-rata kerapatan stomata terbesar pada ujung daun, sedangkan bagian tengah daun memiliki rata-rata kerapatan stomata terkecil.



Kesesuaian Lahan dan Adaptasi
Ketinggian tempat altitude        : 10 - 1.200 m dpl
Kesesuaian suhu                      : 18 - 34 derajat celcius
Kesesuaian tanah                     : Tanah Gembur dan subur
Kesesuaian curah hujan           : 1.600 - 2.500 mm per tahun
Kesesuaian cahaya                  : Semi Shade, Full Sun
Pertumbuhan Tanaman            :
Kebutuhan Air                           :
Kebutuhan Perawatan              :

Lokasi tanaman buah secara geografis terletak pada 06º–35º LS dan 52º–106º BT dengan kemiringan lahan 0–8 % dan ketinggian tempat ± 70 mdpl. Tipe iklim TBM termasuk tipe iklim A dengan curah hujan 2000–4000 mm/tahun, suhu rata-rata 25 °C dan kelembapan relatif 80–90 %. Jenis memiliki jenis tanah latosol, warna tanah coklat sampai kemerahan, tekstur tanah sedang hingga berat, struktur tanah remah hingga gembur, infiltrasi air lambat sampai dengan tinggi, dan mengandung bahan organik kurang dari 2 %. 

Lokasi memiliki pH tanah berkisar 5,6–6,6 dengan kondisi kelembapan tanah kering hingga sangat lembap pada rentang 1–10, kelembapan udara 52,8–60,9 %, suhu sekitar 34,1–36,5 ºC, dan intensitas cahaya 234–1516 lux. 
Selain itu, di lokasi juga memiliki pH tanah 6,0–6,6 dengan kelembapan tanah kering hingga sangat lembap dengan rentang 2–10, kelembapan udara sebesar 72,7–77,1 %, suhu udara 31,0–32,2 ºC dan intensitas cahaya 254–709 lux. Kecepatan angin di kebun berkisar 0– 3,2 km/jam. 
Menurut Ristekdikti (2006) beberapa syarat tumbuh tanaman jambu air, antara lain: ketinggian tempat 0–1000 mdpl, curah hujan rendah/kering sekitar 500– 3000 mm/tahun, suhu berkisar 18–28 ºC, kelembapan udara 50–80 %, intensitas cahaya matahari 40–80 %, dan memiliki pH tanah 5,5–7,5.

Varietas-Varietas Jambu Air Tanaman jambu air secara umum meliputi beberapa varietas: Citra, Sukaluyu, Camplong, Madura Putih, Rose Apple, Apel Super, Mutiara Hitam, Neem, Lilin Merah, Lilin Hijau, King Rose Apple, Semarang Darah, Cincalo, dan beberapa varietas lain. 

Varietas Citra merupakan varietas yang paling diunggulkan karena memiliki rasa buah yang manis, harga jual yang tinggi, dan memiliki rata-rata ukuran buah yang besar. Widodo et al. (2012) melaporkan bahwa Varietas Citra merupakan salah satu varietas yang memiliki kestabilan sangat tinggi berdasarkan karakter yang berhubungan dengan morfologi, distribusi, dan penamaan. Varietas tergolong stabil apabila memiliki karakter morfologi tetap (seragam), terdapat di berbagai lokasi (distribusi luas), memiliki nama, dan dikenal banyak orang.

Perbanyakan Tanaman Jambu Air
Perbanyakan tanaman jambu air dilakukan dengan metode cangkok dan okulasi. Pada perbanyakan melalui metode cangkok, indukan dipilih dengan kriteria memiliki batang sehat, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, serta memiliki kemampuan produksi yang bagus, sedangkan pada metode okulasi, batang bawah berasal dari tanaman yang sudah tidak produktif yang sudah dipangkas berat (toping), kemudian disambung dengan batang atas (entres) yang didapatkan dari tanaman varietas unggul. 

Pemilihan entres dilakukan dengan memilih batang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Panjang entres tidak ditentukan dalam pemilihan entres. Hal ini didukung oleh penelitian Parsaulian et al. (2012) yang menyatakan panjang entres tidak mempengaruhi persentase keberhasilan sambungan. Menurut Limbongan (2012) penentu keberhasilan sambungan, selain dipengaruhi oleh jenis klon sumber entres, juga ditentukan oleh pengalaman dan keterampilan petani untuk melakukan pengembangan.

Klasifikasi Tanaman

Clade         : Magnoliopsida
Order         : Myrtales
Family        : Myrtaceae
Genus        : Syzygium
Species      : Syzygium aqueum
Binomial name
Syzygium aqueum (Burm.f.) Alston

Sinonim
Eugenia javanica Lamk.
Eugenia mindanaensis C.B. Robinson

Musim Berbunga dan Berbuah Jambu Air
Musim berbunga pada tanaman jambu air berdasarkan hasil pengamatan terjadi pada bulan Februari hingga Juni serta mengalami musim berbuah antara bulan Maret hingga Juli. Menurut Tohir (1981) jambu air memiliki musim berbunga pada bulan Juli dan September dan berbuah lebat pada bulan Agustus dan November serta pada jambu air semarang berbunga pada bulan April hingga Juni dan berbuah lebat pada bulan Juli hingga Agustus. Beberapa periode musim berbunga dan berbuah yang tidak konsisten diduga terjadi karena adanya pengaruh faktor lingkungan atau pengaturan kondisi lingkungan khususnya pada saat pembungaan atau musim berbunga. Menurut Tohir (1981) musim berbunga dan lama berbunga menentukan musim berbuah pada tanaman buah-buahan.

Seperti di foto foto ini, merupakan musim buah di bulan November 2020 dan buah jambu air sangat manis dan renyah.

Lama Fase Pembungaan dan Pembuahan Jambu Air

Lama fase pembungaan dilihat berdasarkan lama waktu bunga kuncup hingga bunga mekar. Hasil pengamatan menunjukkan lama fase pembungaan pada Varietas Citra, Sukaluyu, Rose Apple, dan Lilin Merah tidak jauh berbeda yakni sekitar satu bulan. 

Pembungaan dapat dikendalikan melalui pengaturan kondisi lingkungan terutama suhu dan secara kimiawi dengan mengaplikasikan senyawa kimia tertentu seperti zat pengatur tumbuh (Zulkarnain 2010). Lama fase pembuahan dilihat berdasarkan lama waktu dari pembesaran bakal buah sampai dengan buah matang. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Varietas Citra dan Sukaluyu memiliki rentang fase pembuahan yang tidak jauh berbeda yaitu 19–29 hari dan 17–29 hari (3–5 minggu), Varietas Neem 21–24 hari (4 minggu), Varietas Semarang Darah 33–36 hari (5–6 minggu), sedangkan Varietas Mutiara Hitam memiliki fase pembuahan yang lebih lama sekitar 38 hari (6 minggu). Menurut Margianasari et al. (2013) lama pembentukan buah jambu air sejak tanaman berbunga adalah 4–5 minggu setelah muncul bunga.

Lama fase pembungaan maupun pembuahan pada beberapa varietas jambu air tidak dapat diamati disebabkan adanya kerontokan bunga maupun buah pada saat pengamatan. Kerontokan bunga dan buah secara umum terjadi pada semua varietas. Beberapa varietas yang lebih rentan mengalami kerontokan buah, yaitu: Lilin Hijau, Lilin Merah, dan Madura Putih. Menurut Hariyanto (2003) kerontokan bunga maupun buah dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain: gangguan alam, gangguan hama, gangguan cendawan, kesalahan pemupukan, kurang berhati-hati dalam perawatan, dan gangguan fisiologis. Cara mengatasi hal tersebut ialah dengan melakukan tindakan pencegahan maupun pengendalian yang tepat.

Perawatan Tanaman Jambu Air
Perawatan tanaman dilakukan melalui beberapa perlakuan antara lain penyiraman, penyiangan, pemupukan, pemangkasan, serta pemberantasan hama dan penyakit. 

Penyiraman biasanya dilakukan pada awal pembungaan dan secara intensif dilakukan pada musim kemarau serta pada fase pembentukan buah hingga pembesaran buah. 

Penyiangan bertujuan mencegah kemungkinan adanya pertumbuhan jamur disebabkan daerah sekitar perakaran yang lembab. Penyiangan biasanya dilakukan sebelum pemupukan dan pada proses menuju pembungaan. 

Jenis pupuk yang digunakan dalam pemupukan yaitu pupuk organik dan anorganik. Pemupukan yang baik dilakukan sebanyak dua kali dalam satu tahun. Menurut Hariyanto (2003) pemupukan sebaiknya dilakukan sebelum pemangkasan. 

Pemangkasan bertujuan mengurangi kerimbunan pohon untuk memberikan peluang cahaya matahari dapat masuk sehingga tanaman mendapat cukup sinar matahari. Pemangkasan yang dilakukan yaitu pemangkasan pemeliharaan, bentuk, dan peremajaan. Pemangkasan biasanya dilakukan setelah panen buah. 

Menurut Margianasari et al. (2013) pemangkasan tanaman sebaiknya dilakukan pada saat selesai panen buah dan dilakukan rutin 3–4 kali dalam satu tahun. Hariyanto (2003) menambahkan bahwa waktu pemangkasan sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, sebab suhu tidak terlalu panas dan persediaan air cukup banyak sehingga dapat membantu mempercepat pertumbuhan tunas

Hama dan Penyakit Tanaman  Jambu
Pemberantasan hama dan penyakit secara umum dilakukan dengan tiga cara yaitu mekanik, kimiawi, dan biologis. 

Cara mekanik dilakukan secara langsung dengan memotong/mengambil bagian-bagian dari tanaman yang terserang hama dan penyakit kemudian dibuang. 

Cara kimiawi dilakukan dengan melakukan penyemprotan pestisida/fungisida pada tanaman yang terserang. Cara biologis dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami dari hama/penyakit pengganggu tanaman. 

Menurut Pracaya (2007) pengendalian hama yang baik adalah dengan cara biologis. Hama yang menyerang tanaman jambu air berdasarkan hasil pengamatan, antara lain: ulat pagoda, ulat penggulung/pemakan daun, ulat kepala besar, ulat jengkal, ulat bulu, ulat kupu-kupu gajah, kutu daun, lalat buah, belalang daun, walang sangit, dan beberapa hama lain. 

Tanaman jambu air yang lebih rentan terserang penyakit pada daun antara lain Varietas Neem dan Mutiara Hitam. Beberapa penyakit yang ditemukan pada tanaman jambu air, yaitu: antraknosa, embun jelaga, dan adanya gangguan pada buah berupa bercak kehitaman yang menyebabkan gugur buah. Menurut Ristekdikti (2006) noda berwarna kecoklatan atau kehitaman pada permukaan buah disebabkan oleh ulat/lalat buah dan sejenis cendawan yang mengakibatkan buah rontok dan busuk


Manfaat Tanaman
Manfaat tanaman sebagai buah penghasil Vitamin C

Lokasi Pemotretan

Lokasi pemotretan di Blitar, Jawa Timur

Detail :
Camera maker : Nikon Corporation
Camera model : Nikon D5200
F Stop : f/5.6
Exposure time : 1/125 sec.
ISO Speed : ISO 400 
Focal lengh : 300 mm
Lens : Sigma 70-300mm f/4-5.6 DG Macro Nikon AF-S 105mm F/2.8G IF-ED VR Micro-NIKKOR

Kamus Identifikasi tumbuhan dan tanaman serta Sumber Informasi untuk Pengenalan Tumbuhan dan Tanaman 

Planter and Forester

0 Response to "Mengenal Tanaman Jambu Air, Syzygium aqueum, Buah yang enak dan menyegarkan "

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel