google.com, pub-6935017799501206, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Nisaetus bartelsi Stresemann 1924 , Elang Jawa, Javan Hawk Eagle - PLANTER AND FORESTER

Nisaetus bartelsi Stresemann 1924 , Elang Jawa, Javan Hawk Eagle

 Seri Burung Raptor
Nisaetus bartelsi Stresemann 1924  , Elang Jawa 
Javan Hawk Eagle
Elang Jawa, Javan Hawk EagleNisaetus bartelsi 
Elang Jawa, Javan Hawk EagleNisaetus bartelsi Stresemann 1924
Burung Elang Jawa termasuk Ordo  Acciptriformes dan Family Accripitridae.  Burung Pemangsa yang diidentifikasi oleh Stresemann pada tahun 1924 dan Nisaetus bartelsi merupakan burung Raptor endemik dari Pulau Jawa dan dibatasi untuk patch atau bagian sisa hutan dan akibatnya sangat langka.  Musim berkembang biak atau musim kawin antar bulan Januari dan Juni.

Nama Populer - Pop name    :  Elang ular, The Crested Serpent Eagle
Nama Latin - Latin Name      :  Spilornis cheela Latham
Family                         :  Accipitridae
Origin - Daerah Asal               :  Indonesia

Ciri khas                                  :  Elang berjambul
Keunikan                                 :  Jambul naik saat waspada


Elang Jawa, Javan Hawk EagleNisaetus bartelsi 

Keberadaan elang jawa telah diketahui sejak sedini tahun 1820, tatkala van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari kawasan Gunung Salak untuk Museum Leiden, Negeri Belanda. Akan tetapi pada masa itu hingga akhir abad-19, spesimen-spesimen burung ini masih dianggap sebagai jenis elang brontok.

Baru pada tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibuat oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O. Finsch, mengenalinya sebagai takson yang baru. Ia mengiranya sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka. Sampai kemudian pada tahun 1924, Prof. Stresemann memberi nama takson baru tersebut dengan epitet spesifik bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas, dan memasukkannya sebagai anak jenis elang gunung Spizaetus nipalensis.

Demikianlah, burung ini kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga akhirnya pada tahun 1953 D. Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi.

Burung Raptor Elang Jawa bersarang di pohon, telur hanya 1 butir.  Elang Jawa betina mengerami telurnya sekitar 47 hari.  Elang Jawa atau Javan Hawk Eagle merupakan mitos lambang negara Indonesia, Burung Garuda. Status Burung Elang Jawa  IUCN adalah Endangered  (EN) atau terancam dan dilindungi. Burung ini memakan kelinci, tikus, dan burung kecil dan penyebarannya di Jawa.

Elang jawa, Nisaetus bartelsi adalah salah satu spesies elang berukuran sedang dari keluarga Accipitridae dan genus Nisaetus yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia

Elang Jawa,  Nisaetus bartelsi  adalah sejenis elang besar yang menyebar luas di  kepulauan Sunda Besar, hingga ke Perbatasan Bali. Elang ini merupakan anggota suku Accipitridae

Habitat Satwa

Elang jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan kadang-kadang 3.000 mdpl.

Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya. Walaupun ditemukan elang yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.

Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan. 

Habitatnya adalah hutan, tepi hutan, perkebunan, sub-urban. Tersebar sampai ketinggian 1.900 m dpl. Bido memangsa ular dan reptil pada umumnya, katak, serta mamalia kecil.

Pohon sarang merupakan jenis-jenis pohon hutan yang tinggi, seperti rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus sundaicus), tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus). Tidak selalu jauh berada di dalam hutan, ada pula sarang-sarang yang ditemukan hanya sejarak 200–300 m dari tempat rekreasi.

Di habitatnya, elang jawa menyebar jarang-jarang. Sehingga meskipun luas daerah agihannya, total jumlahnya hanya sekitar 137-188 pasang burung, atau perkiraan jumlah individu elang ini berkisar antara 600-1.000 ekor. 

Penyebaran Satwa

Penyebaran burung Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. 

Namun penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng.

Morfologi Satwa

Morfologi Elang Jawa, Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm dari ujung paruh hingga ujung ekor.

Kepala berwarna coklat kemerahan atau kadru, dengan jambul yang tinggi menonjol  dengan 2-4 bulu, panjang hingga 12 cm dan tengkuk yang coklat kekuningan kadang tampak keemasan bila terkena sinar matahari. 

Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis sebetulnya garis-garis hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang tampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.

Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera atau daging di pangkal paruh kekuningan; kaki dengan jari kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.

Ketika terbang, elang jawa serupa dengan elang brontok alias Nisaetus cirrhatus bentuk terang, namun cenderung tampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.

Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.

Perilaku Makan Satwa
Perilaku makan Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walik, punai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing, kalong, musang, sampai dengan anak monyet.

Perilaku Reproduksi Satwa
Perilaku Reproduksi Masa bertelur tercatat mulai bulan Januari hingga Juni. Sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20-30 di atas tanah. Telur berjumlah satu butir, yang dierami selama kurang-lebih 47 hari. Indukan elang jawa berpartisipasi dalam memberi makan anakan elang jawa. Beberapa elang jawa remaja memungkinkan tinggal di sekitar sarang mereka sampai tahun berikutnya.

Elang Jawa, Javan Hawk EagleNisaetus bartelsi 

Klasifikasi Satwa 
Kingdom    :  Animalia
Phylum      :  Chordata
Class         :  Aves

Order         :  Accipitriformes
Family        :  Accipitridae
Subfamily   : 
Genus        :  Nisaetus
Species      :   Nisaetus  bartelsi
Binomial name
Nisaetus bartelsi (Stresem., 1924)
Spizaetus nipalensis bartelsi 

Status Konservasi
Populasi yang kecil ini menghadapi ancaman besar terhadap kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi jenis. Pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa. Dalam pada itu, elang ini juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai satwa peliharaan. Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, dan pada gilirannya menjadikan harga burung ini melambung tinggi.
Dilindungi Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, PP 7 dan 8 tahun 1999.

Elang Jawa, Javan Hawk Eagle  is listed as being of Least Concern by the IUCN.

Mempertimbangkan kecilnya populasi, wilayah agihannya yang terbatas dan tekanan tinggi yang dihadapi itu, organisasi konservasi dunia IUCN memasukkan elang jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam kepunahan). Demikian pula, Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang 

Lokasi Pemotretan

Lokasi pemotretan di  Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah

Detail :
Camera maker : Nikon Corporation
Camera model : Nikon D750
F Stop : f/5.6
Exposure time : 1/125 sec.
ISO Speed : ISO 400
Focal lengh : 120 mm
Lens : Nikon AF-S 24 - 120 mm 

0 Response to "Nisaetus bartelsi Stresemann 1924 , Elang Jawa, Javan Hawk Eagle"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel