google.com, pub-6935017799501206, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Tanaman Langka Buah Buni, Antidesma bunius L Spreng - PLANTER AND FORESTER

Tanaman Langka Buah Buni, Antidesma bunius L Spreng

Antidesma bunius L Spreng

Pohon langka berbuah dan sebagai Pohon Peneduh Antidesma bunius

Nama Populer                  : Buni, Wuni, Uni, Huni, Bignai
Nama Latin                       : Antidesma bunius L Spreng
Family                               : Phyllanthaceae
Genus                               : Antidesma
Origin - Daerah Asal         : Indonesia, Asia Selatan, Malaysia, Thailand
Tata Letak Landscape      : Tanaman tepi jalan, Point of view taman
Tipe Tanaman Hias           : Pohon Pelindung, Pohon Peneduh
Propagasi Perbanyakan   : Biji, Stek, Cangkok
Media tanah                      : Tanah Kebun dan Humus
Perlakuan khusus             : Pemangkasan dan pemupukan


Tanaman Buni atau uni di Philipina disebut bignay.  Penyebaran tanaman mulai dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, Philippina, hingga Australia.

Nama nama loka dari Buah Buni adalah :
Sunda  : Boni, Huni
Jawa    : Uni, Wuni
Lainnya penyebutan dari asing seperti Bugnay atau bignai, Chinese laurel, Queensland cherry, Salamander tree, wild cherry dan Currant tree. 

Saat kecil saya sangat menyukai rasa asam buah buni. Saya tinggal di kota Blitar, dan saya menjumpai pohon ini di Taman Kebon Rojo. Lokasi pohon karena sering kami ambil buahnya, sangat hapal. Kalau kita masuk dari pintu lapangan tenis, pohon ada di sebelah kanan.


Pohon Antidesma bunius

Daun
Daun yang masih muda berwarna hijau muda dan kecoklatan. Semakin tua berwarna hijau terang.

Pucuk Daun Antidesma bunius
Daun tua berwarna hijau
Bentuk daun ovate hingga elliptic dengan tulang daun menyirip. Tangkai bunga pendek. Pinggir daun rata alias entire. 
Daun pohon Buni membentuk kanopi yang rapat dan mampu menjadi tanaman pelindung dan tanaman pemecah angin.

Buah
Buah buni adalah makanan saya saat kecil. Buah yang dimakan adalah buah yang sudah masak. Buah yang masih hijau atau mengkal, rasanya sangat asam.

Spesies ini dioecious, dengan bunga jantan dan betina tumbuh di pohon yang terpisah. Bungan jantan memiliki aroma yang kuat dan agak tidak menyenangkan. Bunga staminate disusun dalam tandan kecil dan bunga pistillate tumbuh pada raseme panjang yang akan menjadi untaian panjang buah. Buahnya bulat dan panjangnya hanya di bawah satu sentimeter, tergantung sendiri-sendiri atau berpasangan dalam tandan yang panjang dan berat. Mereka berwarna putih ketika belum matang dan secara bertahap berubah menjadi merah, kemudian hitam.

Buah yang sudah matang berwarna merah tua hingga kehitaman. Jika dimakan, rasa sepat, manis dan asam bersatu memberikan sensasi rasa tersendiri.
Antidesma bunius saat masih muda

Buah buni berukuran kecil, sekitar diameter 3 - 5 mm tersusun dalam rangakaian panjang dan bergerombol.


Buah Buni muda

Saat muda, buah berwarna hijau dan bentuknya memanjang. Saat matang, buah akan berubah menjadi bulat dan berwarna putih kuning, merah dan menghitam saat matang.

Buah Buni Antidesma bunius yang sudah mulai matang
Karena buahnya kecil kecil, maka saat memakannya adalah dengan menggenggam dan memasukkan ke mulut.  Bahasa jawanya di kremus alias dimakan bersama dengan bijinya,

Buah Buni antidesma bunius yang sudah matang
Sensasi asam dan manis menyatu dalam mulut dan inilah nikmatnya makan Buni.  Tangkai buah Buni mirip segerombol anggur yang ukurannya lebih kecil.

Nama belakang bunius berasal dari seorang Ilmuwan berkebangsaan Jerman Belanda Georg Eberhard Rumphius yang diplesetkan menjadi bunius.

Rumphius tingal lama di Ambon hingga 45 tahun lamanya. Ahli Botani ini  pernah bekerja di Vereenigde Oostindische Compagnie alias VOC di Hindia Belanda yang sekarang menjadi Indonesia.
Karya terbesar dan terkenal beliau adalah Herbarium Amboinense atau Herbarium tanaman tanaman Ambon dan sampai mendapat julukan Ilmuwan Buta dari Ambon.

Karena terpesona dengan cerita tentang Maluku sebagao penghasil rempah rempah, Rumphius mendaftarkan diri sebagai tentara VOC dan khayalannya tentang Maluku terwujud pada tahun 1653 saat armada VOC merapat di Ambon dan armada ini yang juga berperang melawan Sultan Hasanuddin dari Gowa karena persaingan perdagangan rempah rempah dari Maluku. 

Buah Buni karena berbunga terpisah antara jantan dan betina, sebaiknya ditanam lebih dari satu.  Sebaiknya Satu pohon jantan ditanam untuk setiap 10 hingga 12 betina untuk memberikan penyerbukan silang  Kalau pun ada satu pohon yang bisa berbunga dan berbuah, ada serangga yang melakukan penyerbukan dengan membawa benangsari dari pohon Buni lain.

Pohon dapat mulai menghasilkan buah dalam 5 - 6 tahun dari biji, atau hanya 2 - 3 tahun dari tanaman asal cangkokan.

Begitu hebatnya cerita mengenai Buah Buni Antidesma bunius.

Manfaat

Pohon Buni bermanfaat sebagai tanaman hias, pohon pelindung, peneduh dan tanaman agroforestry untuk daerah daerah marginal.

Khasiat sebagai obat,  Daunnya ditumbuk dan digunakan untuk mengobati gigitan ular di Asia. Selain itu daun dan akar ditumbuh dan dijadikan ramuan yang digunakan sebagai obat untuk cedera traumatis atau memar.

Di Indonesia sudah mulai jarang ditemui Pohon Antidesma bunius dan jaman dulu umumnya di tanam di pekarangan rumah rumah di Jawa.

Lain lagi di Philippina, ternyata tanaman Buni sangat banyak dan bersifat invasif, mungkin karena tempatnyayang sesuai. 

DI daerah Jawa banyak ditemui di ketinggian 200 - 1.200 m dpl dan bertanah subur.  Padahal tanaman Buni termasuk tanaman yang mampu tumbuh di tanah marginal.

Kayunya diimanfaatkan untuk bahan baku konstruksi dan perkakas rumah.

0 Response to "Tanaman Langka Buah Buni, Antidesma bunius L Spreng"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel