google.com, pub-6935017799501206, DIRECT, f08c47fec0942fa0 KAKAO, HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN SERTA PENGENDALIANNYA - PLANTER AND FORESTER

KAKAO, HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN SERTA PENGENDALIANNYA

KAKAO, HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN SERTA PENGENDALIANNYA


Berbagai Serangan Hama dan Penyakit yang menurunkan Produksi

Tanaman Kakao (Theobroma cacao) termasuk tanaman perkebunan yang rentan dengan hama dan penyakit.
Produktifitas tanaman Kakao bisa langsung merosot karena serangan hama dan penyakit yang menyerang, baik yang menyerang tanaman maupun yang menyerang buah.

Berbagai daya upaya untuk mengendalikan perkembangan hama dan penyakit yang merusak dan mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengurangi produksi tanaman baik pada tanaman belum menghasilkan maupun tanaman menghasilkan.

Berikut beberapa hama yang sangat merugikan dalam budidaya Kakao,

1. Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) (Conopomorpha cramerella (Snell))
2. Serangga (Kepik) Penghisap Buah Kakao
3, Ulat Kilan (Hyposidra talaca Walk)
4. Penggerek Batang Zeuzera coffeae Nietn, Glenea spp dan Eulaphonotus myrmeleon
5. Tikus Rattus rattus sp.
6. Babi hutan

Sedangkan penyakit yang merugikan dalam budidaya Kakao adalah,
1. Penyakit Busuk Buah
2. Penyakit kanker Batang (Phytophthora palmivora (Butl.) Butl.)
3. Penyakit Pembuluh Kayu – Vascular Streak Dieback (VSD)
4. Penyakit Antraknose (Colletotricum gloeosporoides Penz. Sacc)
5. Penyakit Jamur Upas (Upasia salmonicolor B. Et Br) Tjokr.
6. Penyakit Jamur Akar

Secara detail gejala, penyebab dan pengendalian disampaikan seperti dibawah ini,

Hama
1. Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) (Conopomorpha cramerella (Snell)) 
Gejala
  1. Serangan PBK dapat terjadi sejak buah Kakao berukuran ± 8 cm sampai buah dewasa
  2. Serangan pada buah dalam masa pentil (< 3 bulan) biji tidak akan berkembang sempurna (gepeng) dan saling lengket.
  3. Buah terserang umumnya menunjukkan gejala masak awal, yaitu belang kuning dan jika buah digoyang tidak berbunyi seperti halnya buah masak normal.
  4. Buah yang terserang jika dibelah tampak biji Kakao saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang, ukuran biji kecil dan tidak bernas serta kandungan sampah meningkat.
Pengendalian
  1. Untuk daerah bebas PBK dilakukan pencegahan dengan
  • Ø karantina , yaitu tidak memasukkan bahan tanaman Kakao dan perlengkapan lain dari daerah terserang PBK
  • Ø Monitoring hama di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) bertujuan untuk mendeteksi dini adanya serangan baru PBK
  • Ø Sanitasi dengan mengubur kuliat buah, plasenta dan buah busuk
  1. Pemangkasan pemendekan tajuk < 4 m dan pemangkasan produksi
  2. Membatasi tinggi tajuk maksimum 4 meter untuk mempermudah pengendalian hama
  3. Pemupukan kakao secara kontinyu dengan prinsip tepat jenis, tepat dosis tepat waktu dan tepat aplikasi
  4. Panen sering setiap minggu dan diikuti sanitasi. Buah dikumpulkan di Tempat pengumpulan hasil (TPH) dan buah segera dibelah danm diambil bijinya. Kulit buah dan plasenta dibenam dan ditutup tanah.
  5. Penyarungan atau pembungkusan buah dilakukan terhadap buah berumur 3 bulan atau berukuran panjang antara 8-10 cm menggunakan kantong plastik ukuran 15 x 30 cm untuk mencegah imago PBK bertelur pada buah.
  6. Pengendalian secara biologi dengan menggunakan jamur Beauvaria bassiana dosis 50-100 gram spora/ha dengan volume semprot 250 l/ha atau 1,5 – 2,0 kg biakan padat/ha. Penyemprotan dilakukan 5 x interval 10 hari dengan sasaran buah muda dan cabang horizontal.
  7. Menggunakan musuh alami semut hitam Dolicoderus thoraxicus dengan meningkatkan populasi semut hitam. Pembuatan sarang dari lipatan daun kelapa atau daun kakao dan digantung pada jorquet tanaman ayng sudah ada semut hitamnya. Menggunakan naungan tanaman kelapa untuk meningkatkan populasi semut hitam.
  8. Pengendalian dengan perangkap Berferomon, yaitu dengan pemasangan seks feromon menggunakan trap atau perangkap yang digantungkan 0,5 meter di atas tajuk tanaman kakao untuk menarik serangga jantan PBK. Dalam 1 (satu) ha dipasang sekitar 8 perangkap dengan penataan secara sistematis dan senyawa feromon (lure) dan perekatnya diganti setiap 2-3 bulan sekali.
  9. Penanaman dengan klon tanaman Kakao yang tahan serangan PBK seperti ICCRI 07 dan SUL 3 dan klon yang memiliki produksi tinggi seperti SUL 1, SUL 2, ICCRI 03, ICCI 04 atau klon unggul lokal melalui teknik sambung samping, sambung pucuk atau tanam ulang.
  10. Pengendalian secara kimiawi merupakan alternatif terakhir dengan kondisi serangan berat > 30%. Jenis insektisida yang digunakan dianjurkan dari golongan bahan aktif sintetik piretroid seperti
  • Ø Sihalotrin 0,06% (Matador 25 EC),
  • Ø betasiflutrin 0,20% (Raydock 28 EC)
  • Ø esfenvalerat 0,2%,
  • Ø fipronil 0,1% (Regent 50 EC)
  • Ø sipermetrin 0,06% (Capture 50 EC)
  • Ø sipermetrin + thiomitoksam (Alika 247 ZC)
  • Ø sipermetrin+klorpirifos 0,05% (Nurelle D 500/50)
  1. Peralatan semprot menggunakan knap sack sprayer dengan volume semprot 250 liter/ha, interval 10 hari sekali. Sasaran penyemprotan adalah semua buah terutama yang berukuran panjang ± 8 cm dan cabang cabang horizontal yang merupakan tempat istirahatnya imago PBK pada siang hari dan paling sedikit dilakukan penyemprotan 3 x .
Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) (Conopomorpha cramerella (Snell))

2. Serangga (Kepik) Penghisap Buah Kakao

Gejala
  1. Hama yang menyerang adalah Helopeltis spp, Pseudodoniella spp, Amblypelta spp
  2. Hama menyerang buah dengan tanda tanda bercak bercak di buah kakao
  3. Serangan oleh Helopeltis spp. Dengan gejala ukuran bercak relatif lebih kecil, diameter 2-3 mm dan letaknya cenderung di ujung buah.
  4. Bercak serangan Pseudodoniella spp sama dengan Helopeltis sp tetapi distribusinya terpusat pada bagian buah yang terlindung seperti di pangkal buah dan bagian yang menempel pada batang.
  5. Serangan Amblypelta spp memiliki ukuran bercak lebih besar dan lebih dalam dibandingkan serangan Helopeltis sp dan Pseudodoniella spp dengan distribusi merata di seluruh permukaan buah.
  6. Serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan pucuk layu dan mati (die back), ranting mengering dan meranggas.
  7. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering, tetapi jika msih dapat terus tumbuh, permukaan kulit buah retak dan terjadi malformasi atau perubahan bentuk.
Pengendalian
  1. Untuk daerah bebas PBK dilakukan pencegahan dengan
  2. Karantina , yaitu tidak memasukkan bahan tanaman Kakao dan perlengkapan lain dari daerah terserang PBK
  • Ø Monitoring hama di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) bertujuan untuk mendeteksi dini adanya serangan baru PBK
  • Ø Sanitasi dengan mengubur kuliat buah, plasenta dan buah busuk
  1. Pengendalian secara biologis dengan menggunakan semut hitam (Dolichoderus thoraxicus) Menggunakan musuh alami semut hitam Dolicoderus thoraxicus dengan meningkatkan populasi semut hitam. Pembuatan sarang dari lipatan daun kelapa atau daun kakao dan digantung pada jorquet tanaman ayng sudah ada semut hitamnya. Menggunakan naungan tanaman kelapa untuk meningkatkan populasi semut hitam.
  2. Pengendalian secara biologi dengan menggunakan jamur Beauvaria bassiana dosis 50-100 gram spora/ha dengan volume semprot 250 l/ha atau 1,5 – 2,0 kg biakan padat/ha. Penyemprotan dilakukan 5 x interval 10 hari dengan sasaran buah muda dan cabang horizontal.
  3. Pengendalian dengan pestisida nabati dengan menggunakan ekstrak daun Mimba, ekstrak daun tembakau, ekstrak daun serai wangi, juga ekstrak daun bunga matahari dengan konsentrasi 2.5 5%. Alternatif lain dengan ekstrak daun Babadotan (Ageratum conizoides) dan ekstrak daun sirsak dengan konsentrasi 7%.
  4. Pengendalian secara kimiawi merupakan alternatif terakhir dengan kondisi serangan berat > 15%. Jika tingkat serangan < 15%, penyemprotan dilakukan secara spot sesuai titik serangan (spot spraying) dan jika serangan > 15% maka disemprot secara menyeluruh (Blanket spraying).
  5. Penyemprotan dilakuka saat buah pentil di pohon dan jenis insektisida yang digunakan dianjurkan dari golongan bahan aktif sintetik piretroid seperti
  • Ø Sihalotrin 0,06% (Matador 25 EC),
  • Ø betasiflutrin 0,20% (Raydock 28 EC)
  • Ø esfenvalerat 0,2%,
  • Ø fipronil 0,1% (Regent 50 EC)
  • Ø sipermetrin 0,06% (Capture 50 EC)
  • Ø sipermetrin + thiomitoksam (Alika 247 ZC)
  • Ø sipermetrin+klorpirifos 0,05% (Nurelle D 500/50)
  1. a) Peralatan semprot menggunakan knap sack sprayer dengan volume semprot 400 – 500 liter/ha atau 400-500 cc per pohon, interval 10 hari sekali. Sasaran penyemprotan adalah semua buah terutama yang berukuran panjang ± 8 cm
  2. b) Pengendalian dengan insektisida dengan konsentrasi larutan 0,5 – 1 cc/liter yang dilarutkan dalam 1-2 liter air.
Helopeltis spp, Pseudodoniella spp, Amblypelta spp


3. Ulat Kilan (Hyposidra talaca Walk)

Gejala
  1. Ulat kilan menyerang daun yang masih muda (flush).
  2. Sereangan berat mengakibatkan daun berlubang dan pucuk tanaman gundul dan biasanya tinggal tulang daun saja.
Pengendalian
  1. Pestisida nabati menggunakan ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) yang mengandung senyawa azadirachtin yang bersifat antifeeding dan gustatory repellent dengan konsentrasi 5%
  2. Pengendalian secara kimiawi merupakan alternatif terakhir dengan kondisi serangan berat > 15%. Jika tingkat serangan < 15%, penyemprotan dilakukan secara spot sesuai titik serangan (spot spraying) dan jika serangan > 15% maka disemprot secara menyeluruh (Blanket spraying).
  3. Penyemprotan dilakuka saat buah pentil di pohon dan jenis insektisida yang digunakan dianjurkan dari golongan bahan aktif sintetik piretroid seperti
  • Ø Lamda Sihalotrin 0,05%
  • Ø Sihalotrin 0,05%
  • Ø sipermetrin 0,06% (Capture 50 EC)
  • Ø sipermetrin + thiomitoksam (Alika 247 ZC)
  • Ø sipermetrin+klorpirifos 0,05% (Nurelle D 500/50)
  1. Peralatan semprot menggunakan knap sack sprayer dengan volume semprot 400 – 500 liter/ha atau 400-500 cc per pohon, interval 10 hari sekali
Penggerek Batang Zeuzera coffeae Nietn, Glenea spp dan Eulaphonotus myrmeleon
Gejala
  1. Gejala serangan Zeuzera coffeae biasanya pada tanaman muda (TBM)
  • Ø Serangan baru ditandai dengan lubang gerekan pada batang atau cabang
  • Ø Pada permukaan lubang sering ditemui campuran kotoran ulat Zeuzera coffeae dengan serpihan jaringan
  • Ø Akibat gerekan larva Zeuzera coffeae bagian tanaman di atas lubang gerekan akan layu, kering dan akhirnya mati.
  1. Gejala serangan Glenea spp dan Eulophonotus myrmeleon
  • Ø Larva menggerek batang kakao pada jaringan kambium
  • Ø Pada batang pokok tempat gerekan terutama di pangkal batang, arah gerekan menyamping (horizontal) dan dari lubang gerekan dikeluarkan sisa sisa gerekan yang strukturnya berserat dan berbuih
  • Ø Arah gerakan yang horizontal menyebabkan kerusakan kulit batang berbentuk cincin (ring bark)
  • Ø Hama E myrmeleon menggerek kulit kakao dan banyak meyerang tanaman Kakao TM di sumatera utara
  • Ø Perbedaan dengan Z coffeae, serangan E myrmeleon tidak sampai masuk ke dalam batang tetapi hanya menggerek kulit dan geekannya ditutup dengan kotorannya.
Pengendalian
  1. Pengendalian mekanis dengan memotong cabang atau batang yang terserang ± 10 cm di bawah lubang gerek ke arah pangkal batang atau cabang kemudian cabang dibakar di luar blok atau di luar kebun.
  2. Larva Glenea spp dan E. Myrmeleon mudah ditemukan sehingga pengendaliannya dilakukan dengan membersihkan liang gerekan dan membunuh larva yang ditemukan.
  3. Pengendalian secara biologi dengan menyemprotkan suspensi konidia jamur Beauvaria bassiana ke dalam lubang gerekan dengan konsentrasi 1.18 x 107 konidia /ml air dan lubang ditutup dengan potongan kayu.
  4. Pengendalian secara kimiawi merupakan alternatif terakhir dengan menginjeksikan insektisida nafas atau fumigan ke dalam lubang gerekan dan lubang ditutup dengan potongan kayu. .

5 .Tikus Rattus rattus sp. dan Tupai

Gejala
  1. Tikus menyerang buah Kakao dengan cara memakan biji di areal tanaman kebun terutama pada malam hari
  2. Ciri serangan tikus adalah keratan pada pangkal buah berbentuk bulat, biasanya awal serangan dimulai dari pangkal buah
  3. Akibat dari serangan, buah Kakao menjadi kering dan bijinya habis dimakan sehingga tidak dapat dipanen.

Pengendalian
  1. Pengendalian secara kultur teknis dengan menjaga kebersihan kebun dengan sanitasi khususnya membersihkan buah buah yang terserang dan hasil pangkasan.
  2. Pengendalian secara biologi dengan melepaskan predator burung hantu, Tyto alba dan meningkatkan populasi semut hitam
  3. Pengendalian secara kimiawi dengan memasang umpan racun rodentisida.

6 Babi hutan
Gejala
  1. Babi hutan menyerang kebun Kakao dan menimbulkan kerusakan pada tertanaman Kakao yang berdekatan dengan hutan.
  2. Buah kakao yang diserang dan dimakan terutama terletak pada batang utama
  3. Kerusakan ditandai oleh bekas goresan kaki babi hutan pada saat mengambilo buah dan sayatan sayatan memanjang pada kulit batang Kakao.
Pengendalian
  1. Membuat parit isolasi di sekeliling kebun sedalam 1,5 m dan lebar 1,5 m
  2. Membuat pagar vegetasi misalnya dengan menanam salak yang ditanam rapat di sekeliling kebun untuk menghambat masuknya babi hutan.
  3. Melakukan pemburuan babi hutan baik secara tradisional maupun dengan senjata berburu untuk menurunkan populasi babi hutan
  4. Memasang umpan beracun

Selanjutnya berikut beberapa Penyakit yang sangat merugikan budidaya Kakao
1. Penyakit Busuk Buah 
Penyebab dan Gejala
  1. Penyebab penyakit jamur Phytopthora palmivora yang memiliki sporangium berbentuk lonjong.
  2. Penyakit disebarkan melalui sporangium, zoospora atau klamidospora yang terbawa atau terpercik air hujan.
  3. Penyakit berkembang cepat pada kebun dengan kelembaban dan curah hujan tinggi.
  4. Penularan penyakit terjadi melalui kontak langsung antara buah sakit dengan buah sehat, melalui percikan air hujan dan melalui binatang.
  5. Pada musim kemarau jamur dapagt bertahan di dalam tanah dengan membentuk klamidospora
  6. Munculnya bercak basah yang coklat kehitaman yang berbatas tegas pada buah Kakao
  7. Gejala penyakit muncul di pangkal, tengah atau ujung buah
  8. Buah yang terinfeksi tidak menunjukkan malformasi bentuk
  9. Penyakit busuk buah dapat menginfeksi semua stadium buah mulai dari muda sampai buah tua
Pengendalian
  1. Melakukan sanitasi buah yaitu memetik buah busuk kemudian membenamkan di dalam tanah dan ditimbun tanah setebal ± 30 cm dari permukaan tanah
  2. Pengendalian Kultur teknis dengan pengaturan pohon pelindung dan pangkasan tanaman Kakao sehingga kelembaban kebun tidak tinggi
  3. Pengendalian Kimiawi dengan melakukan penyemprotan buah buah sehat secara preventif dengan fungisida berbahan aktif tembaga (cupri) konsentrasi formula 0,3% dengan selang waktu 2 minggu
  4. Pemilihan bahan tanam yang tahan penyakit busuk buah antara lain Sca 6, Sca 12, DRC 16, ICCRI 03, ICCRI 04 atau klon unggul lokal yang teridentifikasi tahan.
  5. Pengembangan bahan tanam tahan melalui teknik sambung samping, sambung pucuk atau melakukan penanaman ulang.

2, Penyakit kanker Batang (Phytophthora palmivora (Butl.) Butl.)
Penyebab dan Gejala
  1. Penyebab penyakit kanker batang adalah jamur Phytopthora palmivora
  2. Penampakan kulit batang agak berlekuk dan berwarna lebih gelap atau kehitaman
  3. Disertai cairan kemerahan yang kemudian tampak seperti lapisan karat
  4. Jika lapisan kulit luar dikupas maka tampak lapisan di bawahnya membusuk dan berwarna merah anggur
  5. Penyebaran penyakit apabila buah busuk tidak segera diambil dan dapat menular menjadi kanker batang melalui tangkai buah sakit.

Pengendalian
  1. Pada bagian Kulit batang yang membusuk dikupas sampai batas kulit yang sehat
  2. Luka bekas kupasan selanjutnya diolesi dengan fungisida tembaga (cupri) dengan konsentrasi formulasi 5%
  3. Apabila infeksi pada kulit batang sudah hampir melingkar, tanaman dieradikasi dan dibongkar

3, Penyakit Pembuluh Kayu – Vascular Streak Dieback (VSD)
Penyebab dan Gejala
  1. Penyebab penyakit pembuluh kayu adalah jamur Oncobasidium theobromae Talbot and Keane kelas Basidiomycetes.
  2. Jamur memiliki miselium berwarna putih seperti beludru.
  3. Pada lingkungan yang lembab miseliu jamur akan muncul pada bekas duduk daun atau pada retakan retakan daun.
  4. Daun pada tanaman yang terserang VSD menunjukkan gejala klorosis
  5. Daun berubah warna menjadi kekuningan dan terdapat bercak berwarna hijau
  6. Munculnya nekrosis pada daun yang berwarna coklat kehitaman dan kemudian gugur sehingga menyebabkan ranting ompong
  7. Daun yang sudah kering ada kalanya tetap menempel pada ranting dan tidak gugur.
  8. Bila daun sakit dipetik, pada bekas dudukan daun akan terdapat noktah berwarna kecoklatan yang berjumlah tiga buah atau lebih.
  9. Ranting yang terinfeksi nampak kasar akibat perbesaran lentisel dan jika ranting yang terinfeksi dibelah secara membujur, maka akan nampak jaringan xilem yang berwarna coklat akibat infeksi jamur.

 Pengendalian
  1. Pengendalian pada Infeksi ringan (intensitas penyakit < 10%)
  • Ø Pemangkasan sanitasi dengan cara memotong bagian ranting sakit dengan interval 2-3 bulan sekali
  • Ø Pemupukan yang seimbang dan sesuai rekomendasi
  • Ø Perbaikan dan pengaturan pohon naungan
  • Ø Pembuatan saluran pembuangan air pada lokasi yang sering tergenang air untuk mengurangi kelembaban
  1. b) Infeksi Sedang (Intensitas penyakit 11 – 50%)
  • Ø Dimulai langkah pengendalian seperti infeksi ringan
  • Ø Rehabilitasi tanaman kakao dengan cara sambung samping mengunakan klon tahan seperti Sulawesi 1, Sulawesi 2, ICCRI 3, ICCRI 4, Scavina.
  • Ø Sambung samping hanya dapat dilakukan pada tanaman kakao yang batangnya masih sehat dan tidak terserang kanker batang.
  • Ø Sambung kanopi dengan menggunakan klon tahan VSD
  • Ø Penyemprotan fungisida sistemik golongan trizole 0,2%
  • Ø Sasaran penyemprotan adalah pada flush atau daun muda sebanyak 2 kali dengan interval 2 minggu.
  1. Infeksi Berat (Intensitas Serangan penyakit > 50%)
  2. Replanting tanaman Kakao yang terinfeksi berat dan berumur tua
  3. Rehabilitasi tanaman Kakao dengan sambung samping atau sambung kanopi pada tanaman muda
  4. Cara sambung kanopi sama dengan cara sambung samping hanya penyambungan dilakukan di kanopi tanaman.
  5. Aplikasi fungisida golongan triazole konsentrasi 1-2 ml/liter dengan sasaran daun muda (Flush) sebanyak 2 kali aplikasi interval 2 minggu

4. Penyakit Antraknose (Colletotricum gloeosporoides Penz. Sacc) Penyebab dan Gejala
  1. Penyebab penyakit antraknose oleh jamur Colletotrichum gloeosporoides Penz. Sacc.
  2. Jamur tumbuh optimal pada suhu 28 ° C sehingga pada kebun kebun yang kurang penaung serangan akan sangat parah
  3. Penyakit tersebar melalui konidia yang terbawa atau terpercik air hujan pada saat hujan turun
  4. Gejala pada daun adalah bintik bintik coklat pada daun muda, bercak coklat yang tidak beraturan.
  5. Infeksi pada daun muda dapat menyebabkan gugur daun
  6. Gejala pada ranting meliputi ranting gundul berbentuk seperti tulang ikan, dan berlanjut dengan mati ranting.
  7. Gejala pada buah Kakao adalah buah busuk kering dan pada bagian yang busuk akan melekuk ke dalam
  8. Pada tanaman yang terinfeksi parah maka semua ranting menjadi kering dan dapat berakibat pada kematian tanaman.

Pengendalian
  1. Pengendalian dilakukan secara terpadu melalui perbaikan kondisi tanaman dengan cara melakukan pemupukan ekstra.
  2. Perbaikan kondisi lingkungan dengan cara memberikan pohon penaung secukupnya.
  3. Sanitasi terhadap ranting dan buah terserang
  4. Penyemprotan fungisida berbahan aktif proklorast konsentrasi 0,1%, Karbendazim 0,2% atau Mankozeb 0,5% untuk melindungi flush yang tumbuh.
  5. Jika kerusakan tanaman sudah parah perlu dilakukan eradikasi.
5. Penyakit Jamur Upas (Upasia salmonicolor B. Et Br) Tjokr.

Penyebab dan Gejala
  1. Penyebab penyakit jamur Upas adalah jamur Upasia salmonicolor (B.et Br) Tjokr
  2. Penyakit disebarkan oleh Basidiospora yang terbawa angin
  3. Jamur bersifat polifag dan mempunyai banyak tanaman inang antara lain Karet, Kopi, Teh, Kina dan tanaman perkebunan lainnya.
  4. Pada beberapa jenis tanaman penaungn juga terserang jamur ini
  5. Kelembaban tinggi sangat membantu perkembangan penyakit
  6. Jamur upas menginfeksi cabang cabang yang sudah berkayu terutama pada cabang cabang horizontal
  7. Mula mula bagian cabang yang terinfeksi terdapat benang benang jamur yang mengkilap seperti perak yang mirip sarang laba laba (stadium saranglaba laba)
  8. Kemudian jamur membentuk kerak yang berwarna merah jambu yang disebut stadium cortisium dan jamur akan berkembang terus membentuk piknidia yang berwarna merah tua (stadium nekator)
  9. Pada stadium ini bagian ujung dari cabang yang sakit dan daunnya menjadi layu dengan mendadak, sehingga tetap melekat pada cabang meskipun sudah kering.
  10. Kumpulan daun daun kering ini dapat digunakan sebagi tanda adanya infkesi jamur upas.
Pengendalian
  1. Pengendalian dilakukan secara mekanis dengan cara memotong cabang atau ranting yang terinfeksi jamur sampai pada bagian yan masih sehat
  2. Hasil potongan dikumpulkan kemudian dibakar dan dipendam
  3. Tindakan preventif dilakukan pada ranting dengan gejala awal dibersihkan miselium yang menempel pada ranting sakit kemudian dioles fungisida dengan bahan aktif tridemorf atau tembag dengan konsentrasi 10%

6. Penyakit Jamur Akar
Penyebab dan Gejala
  1. Penyebab penyakit akar ada 3 macam yaitu penyakit jamur Akar Merah yang disebabkan oleh Ganoderma pseudofereum, Penyakit Jamur akar Coklat yang disebabkan oleh Phellinus noxius, dan penuakit Jamur akar putih yang disebabkan oleh Fomes lignosus.
  2. Pemularan melalui perantara rhizomorf yang dapat menjalar bebas di dalam atau di atas tanah terlepas dari akar akar tanaman.
  3. Gejala adri ketiga jenis penyakit jamur akar tersebut sama yaitu mula mula daun menguning dan layu secara mendadak kemudian diikuti dengan kematian tanaman.
  4. Daun yang sudah mati bisanya tetap menempel pada pohon
  5. Untuk mengetahui jenis patogen penyebab penyakiut harus melalui pemeriksaan akar.

Pengendalian
  1. Tanaman yang sudah terserang dan mati, harus dibongkar berikut akar akar nya sampai bersih.
  2. Akar akar dikumpulkan di dalam lubang bekas bongkar kemudian dibakar
  3. Pada lubang bekas bongkaran diberi belerang sebanyak 300 gram
  4. Lubang tersebut dibiarkan selama sekitar 1 tahun jika akan ditanam kembali
  5. Untuk menghindari penjalaran penyakit dibuat parit isolasi dengan lebar 30 cm dan kedalaman 80 cm
  6. Tanaman sehat yang berada di sekitar tanaman sakit dan berada dalam parit isolasi diberikan tambahan perlakuan Pupuk Urea dan kapur dengan menaburkan kapur secara melingkar sebanyak 300 gram dan disiram larutan Urea 60 gram dalam 2 liter air.
  7. Selanjutnya area pemupukan diutup dengan serasah.
  8. Parit isolasi dibuat pada larik atau jalur pohon sebelah tanaman mati.

1 Response to "KAKAO, HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN SERTA PENGENDALIANNYA"

  1. Lengkap sekali infonya. Mohon foto fotonya dilengkapi Om

    ReplyDelete

Arsip Blog

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel